Kamis, 12 Desember 2013

Materi Kewirausahaan



BAB I
PENDAHULUAN
A.       Ada Apa Dengan Angkatan Kerja Di Indonesia
                Tenaga kerja merupakan faktor penting dalam pembangunan ekonomi suatu negara. Tetapi tenaga kerja juga dapat menjadi faktor penghambat apabila tenaga kerja yang ada mendatangkan berbagai macam masalah. Ketenagakerjaan di Indonesia masih kurang optimal dalam mendorong pembangunan ekonominya. Masih banyak permasalahan dalam dunia ketenagakerjaan di Indonesia. Berikut ini berbagai masalah ketenagakerjaan yang dihadapi oleh pemerintah
1.         Tingkat Pengangguran yang Tinggi
Pengangguran merupakan salah satu masalah yang berpengaruh besar bagi perekonomian Indonesia. Jumlah angka pengangguran di Indonesia selalu mengalami peningkatan. Hal ini terjadi karena beberapa faktor antara lain :
       Pertambahan penduduk lebih besar daripada pertambahan lapangan kerja. Akibatnya tidak semua penduduk dapat ditampung oleh lapangan kerja yang ada.
       Rendahnya kualitas tenaga kerja. Mereka tidak mampu bersaing dengan tenaga kerja yang memiliki kualitas yang lebih baik. Akibatnya oarang-orang yang mempunyai kualitas rendah akan menganggur.
       Lowongan kerja yang ada tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan. Orang-orang yang mempunyai latar belakang berbeda dengan yang diharapkan perusahaan,tidak dapat bekerja. Akibatnya pengangguran bertambah.
       Kondisi perekonomian yang tidak baik. Terjadinya krisis ekonomi menyebabkan banyak perusahaan/ industri yang gulung tikar. Akbatnya banyak tenaga kerja yang diberhentikan.
Tingginya jumlah pengangguran di Indonesia menimbulkan dampak negatif, antara lain :
       Tingkat kesejahteraan menurun
       Angka kriminalitas meningkat,misalnya pencurian, penjambretan dll.
       Kualitas hidup menurun yaitu seperti lingkungan yang kotor(tidak sehat)
       Produktivitas menurun
       Menurunnya tingkat kesehatan dan kekurangan pangan
       Peningkatan jumlah anak jalanan,gelandangan, pengamen dan sebagainya
       Menurunnya pendapatan negara dari penerimaan pajak penghasilan
       Bertambahnya biaya sosial negara
2.  Meningkatnya Angkatan Kerja
Jumlah angkatan kerja terus meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk. Semakin besar jumlah penduduk maka semakin besar angkatan kerja. Hal ini aka menjadi beban tersendiri bagi perekonomian. Jika meningkatnya angkatan kerja tidak diimbangi dengan bertambahnya lapangan kerja akan menyebabkan masalah pengangguran. Akbatnya orang yang menganggur tidak yang memperoleh penghasilan sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Ini menyebabkan kesejahteraan menurun.
Hal tersebut sangat berlawanan dengan harapan pemerintah,yaitu semakin banyaknya jumlah angkatan kerja diharapkan dapat menjadi pendorong pembangunan ekonomi.
3.   Mutu Tenaga Kerja yang Rendah
Sebagian besar tenaga kerja indonesia berpendidikan rendah dengan keterampilan dan keahlian yang kurang memadahi. Sehingga belum memiliki keterampilan dan pengalaman untuk memasuki dunia kerja. Mutu tenaga kerja yang rendah mengakibatkan kesempatan kerja semakin kecil dan terbatas. Keterampilan dan pendidikan yang terbatas akan membatasi ragam dan jumlah pekerjaan.


4. Persebaran Tenaga Kerja yang Tidak Merata
Persebaran tenaga kerja di Indonesia tidak merata. Di Daerah Pulau Jawa tenaga kerja menumpuk sementara di luar Pulau Jawa kekurangan tenaga kerja. Ini menyebabkan di Pulau Jawa banyak pengangguran dan di luar Pulau Jawa pembangunan akan  terhambat karena kekurangan tenaga kerja untuk mengolah sumber daya alam yang ada. 
B.     Perubahan Pola Pikir Oleh Perguruan Tinggi Dan Masyarakat
Banyak entrepreneur yang tidak meyadari bahwa dunia ini penuh dengan perubahan dan mereka tidak boleh duduk duduk enak melewati hidup dari keuntungan tanpa kewaspadaan . karena manusia selalu menyangkal realita realita baru dan terbelenggu oleh realita realita lama , rutinitas dan engga berfikir tentang hal hal yang baru, semua itu dibentuk oleh mindset kita.
            Mindset Menggerakan Perilaku
pola pikir atau mindset adalah keseluruhan/kesatuan daru keyakinan yang kita miliki,nilai nilai yang kita anut,kriteria,harapan,sikap,kebiasaan. keputusan dan pendapat yang tidak di keluarkan dalam memandang diri kita sendiri, orang lain atau kehidupan ini. mindset adalah semacam filter yang kita bangun untuk menafsirkan apa saja yang kita lihat dan kita alami.
 Mengubah Pola Pikir
 Apakah pola pikir bisa di rubah? "bisa" karena pola pikir merupakan hasil dari sebuah proses pembelajaran (leaning), maka pola pikir bisa juga di ubah (unleaning), dan di bentuk ulang (releaning). Ada pola pikir yang bisa kita ubah dengan bantuan para ahli seperti psikologi, ahli mindset transformasi atau terapis Nlp (Neoro Lingulstik Program).


Pola Pikir Entrepreneur
 Pola pikir seseorang entrepreneur menonjol dalam banyak hal, seorang entrepreneur berkarakter produktif, bukan konsumtif.
            Hambatan Persepsi Saat Memulai Usaha
Pada saat akan memulai usaha banyak entrepreneur pemula yang mempunyai hambatan mental berupa persepsi  yang negatif tentang kemampuan dirinya Untuk memulai usaha, kita harus butuh tiga (3) M, yaitu:

1.Motivasi yang kuat
2.Mindset yang tepat(produktif,kreatif,positif)
 3.Make it (lakukan saja)
C. Kewirausahaan Suatu Pengantar
Membangun Karakter Positif Melalui Pembentukan Mindset Wirausaha Oleh: Hery Wibowo Dewasa ini, terjadi pertumbuhan penduduk yang sangat pesat terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Hal ini menyebabkan dibutuhkannya lapangan kerja yang sangat banyak di Indonesia, namun pada kenyataannya lapangan pekerjaan sangat berbanding terbaik dengan jumlah ledakan penduduk yang terjadi sehingga banyak timbulnya masalah-masalah sosial seperti kemiskinan, premanisme, kriminalitas, dan lain sebagainya. Semua ini karena minimnya lapangan pekerjaan yang dimiliki Indonesia, oleh karena ini saat ini banyak orang yang mulai menyadari tentang pentingnya ilmu kewirausahaan. Kesadaran tentang kewirausahaan ini tidak terbatas hanya pada konsep berdagang saja melainkan merambah ke konsep mental yang kreatif, inovatif, serta mampu mewujudkan ide dan gagasan-gagasan. Hal ini pula yang berusaha disampaikan oleh Pak Hery Wibowo dalam bukunya yang berjudul “Kewirausahaan Suatu Pengantar”.
 Pada bab awal buku ini, kita akan disuguhi dengan pola pikir kewirausahaan serta metode kewirausahaan. Pola pikir kewirausahaan adalah suatu asumsi dasar, nilai atau yang mendasari pemikiran kita, pola pikir inilah yang membedakan satu individu dengan individu lain sedangkan metode kewirausahaan merupakan cara kita untuk menjalankan aktivitas kewirausahaan secara nyata agar menghasilkan keuntungan bagi pengelolanya. Pola pikir dan metode ini akan lebih sempurna jika dilaksanakan secara seimbang oleh seorang wirausaha. Selain itu, kewirausahaan juga berhubungan erat dengan pendidikan di Indonesia, pendidikan yang baik adalah yang mampu untuk menciptakan kreator muda yang berhasil. Kewirausahaan juga memiliki banyak jenis , inilah yang menyebabkan kewirausahaan jaman sekarang ini berkembang dengan sangat pesat. Jika ingin lebih banyak tau tentang buku ini, silahkan dibeli, tidak akan rugi.
BAB II
SAATNYA BERWIRAUSAHA
Banyak cara untuk menjadi peternak sukses, salah satu komoditas ternak yang sedang nge-trend saat ini yaitu ternak ayam kampung. Bagaimana tidak, akhir-akhir ini banyak sekali ulasan di media cetak maupun elektronik yang mengulas mengenai kesuksesan para peternak ayam kampung di tanah air, rata-rata mereka adalah sosok yang memiliki komitmen,mental serta jiwa wirausaha yang kuat. Dari hasil jerih payahnya minimal 2 tahun fokus ternak ayam kampung,sehingga menjadi pionir/pemimpin peternak di daerah tersebut, sehingga bisa menjadi panutan dan acuan peternak baru di kawasan tersebut. Usaha ternak ayam kampung saat ini tampaknya memang menjadi salah satu komoditas usaha yang cukup baik, mengingat bahwa indonesia memiliki potensi tinggi di bidang peternakan dan pertanian.


A.    Karakteristik Wirausaha
Berikut ini adalah beberapa ciri-ciri atau karakteristik seorang wirausaha yang jarang dimiliki oleh masyarakat Indonesia.
1.      Memiliki Rasa Percaya Diri
Entah karena takut salah atau karena hal lain, masyarakat Indonesia masa kini menjadi tidak memiliki kepercayaan diri. Hal tersebut terbukti saat mereka duduk dibangku pendidikan. Saat ditanya oleh guru atau dosen, jarang diantara mereka yang berinisiatif untuk mengangkat tangan dan menjawab pertanyaan sang guru. Bahkan beberapa diantara mereka lebih memilih ditunjuk daripada mengangkat tangan mereka.
2.      Berorientasi pada Tugas dan Hasil
Maksudnya adalah seorang wirausaha harus mempunyai sikap tanggung jawab pada tugas-tugas yang dibebankan kepadanya. Ia juga harus bertanggung jawab pada hasil dari tugas yang dibebankannya. Dan sayangnya, masyarakat Indonesia sangat sedikit yang memiliki sikap ini. Sebagian dari mereka menganggap enteng tugas-tugas yang dibebankan padanya. Misalnya saja, bila seorang mahasiswa diberi tugas yang akan dikumpulkan sampai hari Senin, ia akan mengumpulkan tugasnya pada hari Minggu atau bahkan hari Senin.
3.      Berani Mengambil Resiko
Sebagai wirausaha yang baru, seseorang haruslah berani mengambil resiko dan  menghadapi resiko apapun terhadap langkah yang telah diambilnya.  Seseorang pernah berkata bahwa kita tidak akan pernah memulai sesuatu jika belum pernah mengalami kegagalan. Kemauan dan kemampuan untuk mengambil resiko merupakan salah satu nilai utama dalam kewirausahaan. Wirausaha yang tidak mau mengambil resiko akan sukar memulai atau berinisiatif.
4.      Memiliki Jiwa Kepemimpinan
Kepemimpinan sangat dibutuhkan oleh seorang wirausaha untuk memimpin anak-anak buahnya atau pegawainya. Seseorang tidak akan bisa menjadi seorang wirausaha bila ia tidak bisa memimpin, baik memimpin diri sendiri maupun memimpin orang lain.
Seorang wirausaha yang berhasil selalu memiliki sifat kepemimpinan, kepeloporan dan keteladanan. Ia selalu ingin tampil berbeda, lebih dahulu, dan lebih menonjol. Dengan menggunakan kemampuan kreativitas dan inovasi, ia selalu menampilkan barang dan jasa-jasa yang dihasilkannya lebih cepat, lebih dahulu dan segera berada dipasar. Ia selalu menampilkan produk-produk dan jasa-jasa baru dan berbeda sehingga ia menjadi pelopor yang baik dalam proses produksi maupun pemasaran. Ia selalu memanfaatkan perbedaan sebagai suatu yang menambah nilai. Karena itu, perbedaan bagi seseorang yang memiliki jiwa kewirausahaan merupakan sumber pembaharuan untuk menciptakan nilai. Ia selalu ingin bergaul untuk mencari peluang, terbuka untuk menerima kritik dan saran yang kemudian dijadikan peluang. Seorang wirausaha harus memiliki kemampuan untuk menggunakan pengaruh tanpa kekuatan. Seorang wirausaha juga harus memiliki taktik mediator dan negosiator daripada diktator.
5.      Keorisinilan
Keorisinilan atau keaslian maksudnya bahwa orang yang ingin menjadi wirausaha mempunyai ide-ide kreatif yang asli dan murni dari dirinya, bukan dari orang lain atau hasil dari plagiarism. Namun sayangnya, kebanyakan masyarakat Indonesia saat ini tak mau berfikir dan mengemukakan pendapatnya kepada orang lain. Dan karena hal tersebut, kebanyakan masyarakat saat ini lebih menyukai menjiplak pendapat orang lain dan yang lebih parahnya lagi, mereka bisa mengatasnamakan jiplakannya tersebut sebagai hasil karyanya.
6.      Berorientasi ke Masa Depan
Seorang wirausaha harus mempunyai pandangan tentang masa depannya dan sangat bertekad untuk meraih kesuksesan di masa depan. Seorang wirausaha haruslah bisa memprediksi kebutuhan-kebutuhan apa saja yang sangat dibutuhkan oleh mangsa pasarnya di kemudian hari, tidak stuck hanya memikirkan kebutuhan-kebutuhan yang dibutuhkan masyarakat saat ini.
7.      Jujur dan Tekun
Kejujuran dan ketekunan merupakan kunci kesuksesan,’ begitulah pepatah mengatakan. Ternyata untuk menjadi seorang wirausaha juga dibutuhkan sikap jujur dan tekun. Jujur terhadap diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan pegawai-pegawainya. Tekun dalam mencari ide-ide baru yang lebih kreatif dari ide-ide yang sudah ada dan tekun dalam merintis usahanya yang baru akan mulai berkembang. Jika seorang wirausaha tidak jujur dan tidak tekun, bisa dipastikan wirausaha tersebut tidak akan berhasil dalam usahanya.
8.      Memiliki Motif Berprestasi Tinggi
Kebutuhan berprestasi wirausaha terlihat dalam bentuk tindakan untuk melakukan sesuatu yang lebih baik dan lebih efisien dibandingkan sebelumnya. Wirausaha yang memiliki motif berprestasi pada umumnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1.      Ingin mengatasi sendiri kesulitan dan persoalan-persoalan yang timbul pada dirinya.
2.      Selalu memerlukan umpan balik yang segera untuk melihat keberhasilan atau kegagalan.
3.      Memiliki tanggung jawab personal yang tinggi.
4.      Berani menghadapi resiko dengan penuh perhitungan.
5.      Menyukai tantangan dan melihat tantangan secara seimbang. Jika tugas yang diemban seorang wirausaha dirasa sangat ringan, maka wirausaha merasa kurang tantangan, tetapi ia selalu menghindari tantangan yang paling sulit yang memungkinkan pencapaian keberhasilan sangat rendah.
9.      Memiliki Kreativitas Tinggi
Menurut Teodore Levite, kreativitas adalah kemampuan untuk berfikir tentang hal-hal baru dan berbeda. Oleh karena itu, menurutnya kewirausahaan adalah berfikir dan bertindak sesuatu yang baru atau berfikir tentang sesuatu yang lama dengan cara-cara yang baru. Kreativitas adalah menciptakan sesuatu dari yang asalnya tidak ada. Rahasia kewirausahaan dalam menciptakan nilai tambah barang dan jasa terletak pada penerapan kreativitas dan inovasi untuk memecahkan masalah dan meraih peluang yang dihadapi setiap hari.
10.  Memiliki Perilaku Inovatif Tinggi
Menjadi wirausaha yang handal tidaklah semudah yang dibayangkan. Namun, wirausaha juga tidak sesulit yang dibayangkan oleh kabanyakan orang, karena walau bagaimanapun setiap orang sedang dalam proses belajar berwirausaha. Setiap wirausaha harus selalu berkreasi dan berinovasi agar usahanya tetap berkembang meski menjamurnya saingan. Sesungguhnya kewirausahaan dalam batas tertentu adalah untuk semua orang. Setiap orang memiliki cita-cita, impian, atau sekurang-kurangnya harapan untuk meningkatkan kualitas hidupnya sebagai manusia. Hal ini merupakan semacam ‘intuisi’ yang mendorong manusia normal untuk bekerja dan berusaha. ‘Intuisi’ ini berkaitan dengan salah satu potensi kemanusiaan, yakni daya imajinasi kreatif yang dapat digunakan untuk berkreasi dan berinovasi.
11.  Selalu Memiliki Komitmen dalam Pekerjaan, Etos Kerja dan Tanggung Jawab
Seorang wirausaha harus memiliki jiwa komitmen dalam usahanya dan tekad yang bulat didalam mencurahkan semua perhatiannya pada usaha yang digelutinya. Dalam menjalankan usahanya tersebut, seorang wirausaha yang sukses terus memiliki tekad yang menggebu-gebu dan memiliki semangat yang tinggi dalam mengembangkan usahanya.
12.  Mandiri atau Tidak Ketergantungan pada Orang Lain
Sesuai dengan inti dari jiwa kewirausahaan yaitu kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda melalui berfikir kreatif dan bertindak inovatif untuk menciptakan peluang dalam menghadapi tantangan hidup, maka seorang wirausaha harus mempunyai kemampuan kreatif dalam mengembangkan ide dan pikirannya terutama dalam menciptakan peluang usaha yang digelutinya tanpa harus bergantung pada orang lain.
13.  Selalu Mencari Peluang
Esensi kewirausahaan yaitu tanggapan yang positif terhadap peluang untuk memperoleh keuntungan untuk diri sendiri dan atau pelayanan yang lebih baik pada pelanggan dan masyarakat, cara yang etis dan produktif untuk mencapai tujuan, serta sikap mental untuk merealisasikan tanggapan yang positif tersebut. Pengertian itu juga menampung wirausaha yang bukan pengusaha, termasuk yang mengelola organisasi nirlaba yang bertujuan untuk memberikan pelayanan yang lebih baik bagi pelanggan/masyarakat.
14.  Memiliki Kemampuan Manajerial
Salah satu jiwa kewirausahaan yang harus dimiliki seorang wirausaha adalah kemampuan untuk memanajerial atau mengurus usaha yang sedang digelutinya. Seorang wirausaha harus memiliki kemampuan perencanaan usaha, mengorganisasikan usaha, memvisualisasikan usaha, mengelola usaha dan sumber daya manusia, mengontrol usaha, maupun kemampuan mengintegrasikan operasi perusahaannya yang kesemuanya itu adalah merupakan kemampuan manajerial yang wajib dimiliki dari seorang wirausaha. Tanpa itu semua, seorang wirausaha tidak akan mendapat keberhasilan, melainkan kegagalan.
B.     Mengenal potensi diri dan pengembangan diri
Sebelum kita memahami akan konsep mental wirausaha. Alangkah baiknya kita ulas pengertian dari wirausaha. Secara sederhana arti wirausahawan (entrepreneur) adalah orang yang berjiwa berani mengambil resiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan. Berjiwa berani mengambil resiko artinya bermental mandiri dan berani memulai usaha tanpa diliputi rasa takut atau cemas sekalipun dalam kondisi tidak pasti. Kegiatan wirausaha dapat dilakukan seorang diri atau berkelompok. Seorang wirausahawan dalam pemikirannya selalu berusaha mencari, memanfaatkan, serta menciptakan peluang usaha yang dapat memberikan keuntungan. Resiko kerugian merupakan hal yang biasa karena mereka memegang prinsip bahwa faktor kerugian pasti ada. Bahkan, semakin besar resiko kerugian yang bakal dihadapi, semakin besar pula peluang keuntungan yang diraih. Tidak ada  istilah rugi selama seseorang melakukan usaha dengan penuh keberanian dan penuh perhitungan. Inilah yang disebut dengan jiwa wirausaha.
Ada beberapa pengembangan potensi diri yaitu :
1.      Potemsi fisik
2.      Potensi intelektual
3.      Potensi social
4.      Potensi spiritual
5.      Potensi daya juang

BAB III
ETIKA BERWIRAUSAHA BISNIS

Etika Bisnis merupakan cara untuk melakukan kegiatan bisnis, yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan dan juga masyarakat. Etika Bisnis dalam suatu perusahaan dapat membentuk nilai, norma dan perilaku karyawan serta pimpinan dalam membangun hubungan yang adil dan sehat dengan pelanggan/mitra kerja, pemegang saham, masyarakat.
A.    Mengapa Etika?
Etika bisnis merupakan studi yang dikhususkan mengenai moral yang benar dan salah. Studi ini berkonsentrasi pada standar moral sebagaimana diterapkan dalam kebijakan, institusi, dan perilaku bisnis (Velasquez, 2005). Dalam menciptakan etika bisnis, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain adalah:
1.     Pengendalian diri
2.   Pengembangan tanggung jawab social (social responsibility)
3. Mempertahankan jati diri dan tidak mudah untuk terombang-ambing oleh pesatnya perkembangan informasi dan teknologi
4.     Menciptakan persaingan yang sehat
5.   Menerapkan konsep “pembangunan berkelanjutan”
6. Menghindari sifat 5K (Katabelece, Kongkalikong, Koneksi, Kolusi, dan Komisi)
7.   Mampu menyatakan yang benar itu benar
8. Menumbuhkan sikap saling percaya antara golongan pengusaha kuat dan golongan pengusaha ke bawah
9.   Konsekuen dan konsisten dengan aturan main yang telah disepakati bersama
10. Menumbuhkembangkan kesadaran dan rasa memiliki terhadap apa yang telah disepakati
11. Perlu adanya sebagian etika bisnis yang dituangkan dalam suatu hokum positif yang berupa peraturan perundang-undangan 

B. Konsep Etika Berwirausaha Bisnis
Wirausaha adalah seseorang yang bebas dan memiliki kemampuan untuk hidup mandiri dalam menjalankan kegiatan usahanya atau bisnisnya atau hidupnya. Ia bebas merancang, menentukan mengelola, mengendalikan semua usahanya. Sedangkan kewirausahaan adalah suatu sikap, jiwa dan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru yang sangat bernilai dan berguna bagi dirinya dan orang lain. Kewirausahaan merupakan sikap mental dan jiwa yang selalu aktif atau kreatif berdaya, bercipta, berkarsa dan bersaahaja dalam berusaha dalam rangka meningkatkan pendapatan dalam kegaitan usahanya atau kiprahnya. Seorang yang memiliki jiwa dan sikap wirausaha selalu tidak puas dengan apa yang telah dicapainya. Wirausaha adalah orang yang terampil memanfaatkan peluang dalam mengembangkan usahanya dengan tujuan untuk meningkatkan kehidupannya. Pada hakekatnya semua orang adalah wirausaha dalam arti mampu berdiri sendiri dalam menjalankan usahanya dan pekerjaannya guna mencapai tujuan pribadinya, keluarganya, masyarakat, bangsa dan negaranya.
C. Moral Dan Etika Dalam Berwirausaha
Kewirausahaan (Entrepreneurship) atau Wirausaha adalah proses mengidentifikasi, mengembangkan, dan membawa visi ke dalam kehidupan. Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu. Hasil akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha baru yang dibentuk pada kondisi risiko atau ketidakpastianKewirausahaan memiliki arti yang berbeda-beda antar para ahli atau sumber acuan karena berbeda-beda titik berat dan penekanannya.
Definisi ini mengandung asumsi bahwa setiap orang yang mempunyai kemampuan normal, bisa menjadi wirausaha asal mau dan mempunyai kesempatan untuk belajar dan berusaha. Berwirausaha melibatkan dua unsur pokok (1) peluang dan, (2) kemampuan menanggapi peluang, Berdasarkan hal tersebut maka definisi kewirausahaan adalah “tanggapan terhadap peluang usaha yang terungkap dalam seperangkat tindakan serta membuahkan hasil berupa organisasi usaha yang melembaga, produktif dan inovatif.
D. Contoh Sederhana Etika Berwirausaha Bisnis
Ada beberapa contoh sederhana dalam berwirausaha yaitu :
1.   Cermat harga pasar
Jika ingin memulai bisnis ini kita harus cermat akan harga pasaran mobil tersebut. Jangan sampai kita menjual rugi kendaraan tersebut hanya karena ketidaktahuan akan harga mobil dipasaran. Ini akan membuat kita rugi.
2.   Mengenal kerusakan
Sebaiknya Kawan Kapsul mengenal berbagai macam tipe kerusakan mobil. Sehingga ketika ingin membeli sebuah mobil bekas untuk dijual kembali kita pun bisa tetap meraih keuntungan yang banyak.
3.   Mengetahui seluk-beluk kendaraan
Untuk memulai usaha mobil bekas kita harus mempunyai pengetahuan tentang seluk beluk keseluruhan mobil agar bisa meminimalisir pengeluaran. Jika  mobil yang ingin dijual terdapat kerusakan yang serius kita juga dapat memperkirakan biaya yang akan dikeluarkan.
4.   Relasi
Kawan Kapsul dapat memanfaatkan relasi untuk menjalankan bisnis ini untuk jual beli kendaraan. Ini sangat penting, karena diawal kita membuka usaha karena belum banyak orang yang tahu bahwa kita berbisnis mobil bekas.
5.   Lokasi strategis
Jika ingin membuka showroom mobil bekas, pilihlah lokasi yang banyak kendaraan lalu lalang. Dengan demikian banyak calon pembeli melihat usaha yang kita jalankan. Dan mungkin salah satu dari mereka akan mampir dan membeli mobil yang kita pasarkan.
6.   Pelayanan prima
Kita juga harus bisa membawa calon pembeli untuk bisa membeli mobil bekas tersebut secara nyaman agar mereka tidak ragu ketika membeli mobil bekas yang kita jual. Kalau perlu kita bisa berikan garansi atau jaminan jika mobil yang dijual mempunyai kelegalitasan yang paten baik dan kondisi mobil yang bagus pula.
7.   Berkerja sama dengan pihak finance
Tidak hanya mobil baru, membeli mobil bekas pun sekarang bisa dengan cara kredit. Untuk itu jalinlah kerjasama dengan pihak finance untuk dapat mengakomodir konsumen yang ingin membeli mobil secara kredit.


BAB IV
CORPORATE SOCIAL RESPONBILITT
A.    Konsep CSR
a. Prinsip-prinsip dari CSR seperti akuntabilitas, transparansi, kode etis, perhatian terhadap pemangku kepentingan, aturan hukum, norma-norma internasional dan HAM.
b. Identifikasi dan  kerjasama (engagement) dengan pemangku kepentingan.
c. Core subject” dari CSR seperti tata kelola organisasi/perusahaan, HAM, buruh, lingkungan, praktek-praktek yang fair, isu-isu konsumen dan pelibatan dan pengembangan masyarakat. Masing-masing dari “core subject” ini mempunyai berbagai isu-isu CSR terkait.
d. Panduan teknis untuk menerapkan dan mengintegrasikan CSR di organisasi/perusahaan kita.
Yang sangat dibutuhkan oleh kita adalah panduan teknis tersebut agar CSR tersebut bisa kita rancang dan terapkan sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan sesuai dengan harapan dari pemangku kepentingan yang relevan. Langkah pertama diawali dengan bagaimana perusahaan untuk menentukan relevansi dan signifikansi dari isu-isu CSR dari perusahaan kita, jadi kita akan menentukan “core subject” dan isu-isu CSR yang terkait dengan perusahaan kita.
Setelah itu baru kita menetapkan kebijakan, tujuan dan sasaran termasuk Action plan/program terkaitnya. Dari sini kita bisa mengarahkan akan dibawa kemana CSR kita ini dan akan menjadi bagian yang penting dari kegiatan perusahaan kita. Agar penerapannya menjadi lebih efektif dan konsisten maka setiap isu-isu CSR dan program yang telah ditetapkan harus dibuatkan prosedur-prosedur tertulisnya.
Tidak ketinggalan proses untuk sosialisai standar ini kesemua tingkat diperusahaan termasuk menyiapkan tim inti untuk kompetensi terkait dalam penerapan CSR ini, misal bagaimana teknik untuk melakukan identifikasi pemangku kepentingan dll. Nah, mudah-mudahan dari uraian singkat dari ISO 26000 ini sebagai sebuah panduan yang cukup lengkap dalam penerapan CSR bisa memberikan informasi awal bagi kita semua.
Tren perusahaan-perusahaan dalam melakukan kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) semakin meningkat. Mayoritas kegiatan-kegiatan CSR tersebut berbentuk “charity” yaitu memberikan sesuatu kepada suatu komunitas masyarakat bisa berupa sandang atau pangan. Sebagian kecil perusahaan sudah menambahkan dalam CSRnya berupa program perberdayaan masyarakat (“empowerment”). Pertanyaannya adalah apakah kegiatan CSR tersebut sudah tepat sasaran dan efektif? Sebelum kita menggunakan berbagai metodologi atau standar-standar dalam penerapan CSR (misal ISO 26000) yang tentunya kita perlu waktu untuk belajar dulu atau mungkin perlu bantuan konsultan CSR, sebetulnya ada kiat yang sangat mudah untuk menetapkan program CSR dan mengukur efektifitas pelaksanaannya. Kiat tersebut adalah sesuatu yang ada di depan mata kita dan kita biasa mendengarnya, yaitu AMDAL.
BAB V
MENGENAL TIPE KENDARAAN
                    Ban merupakan bagian dari mobil yang juga memiliki peran besar dalam mendukung kinerja kendaraan tersebut. Permasalahan yang terjadi pada ban tidak hanya membuat mobil tidak dapat dikendarai, namun juga dapat menimbulkan kecelakaan.
Di lain pihak ban juga memiliki beragam spesifikasi yang terkadang membingungkan konsumen dalam menentukan pilihannya. Yang umum dijadikan panduan untuk memilih ban adalah disesuaikan dengan velg yang digunakan, merk dan harga. Ban yang mahal mungkin menawarkan berbagai kelebihan, namun jika spesifikasinya tidak sesuai maka kinerja yang dihasilkan mobil pun tidak optimal. Oleh karena itu kenalilah terlebih dahulu spesifikasi ban sebelum menggantinya dengan yang baru. Berikut ini panduannya :
Kebutuhan
Tentukan kebutuhan akan penggunaan ban. Ban mobil yang digunakan untuk beraktivitas sehari-hari tentu memiliki standard yang berbeda dengan ban yang digunakan pada ajang kompetisi.
Tipe dan Ukuran
Ban yang menghasilkan kinerja optimal terhadap mobil yang digunakan adalah ban yang direkomendasikan oleh manufaktur atas dasar berbagai perhitungan. Untuk mengetahui tipe dan ukuran ban yang direkomendasikan oleh manufaktur kendaraan, cek di buku manual mobil yang bersangkutan atau pada bagian plakat yang melekat pada area sisi pintu.
Contoh 195/55/R15 :
  • Angka 15 menunjukkan ukuran diemeter velg dalam satuan inchi.
  • Angka 195 menunjukkan ukuran lebar ban dengan satuan milimiter.
  • Angka 55 menunjukkan ukuran aspek ratio untuk ketebalan ban (%) dari lebar telapak ban.
Variasi Ban
Sebagai contoh, ukuran P195/55/R15 84V. P di bagian depan merupakan symbol dari (Passenger) ini berarti ban tersebut diperuntukan bagi mobil penumpang. Misalnya, LT (Lite Truck) mengacu untuk ban yang biasanya digunakan pada truk yang beratnya sedang, ST (Special Trailer) untuk mobil trailer, T (Temporary) untuk ban cadangan. Sedangkan R berarti jenis ban radial. Umumnya terdapat 2 jenis ban di pasaran, jenis radial dan bukan radial (biasa). Secara sepintas tidak ada yang beda, yang membedakan hanya pada konstruksinya saja.
   Pola Tapak Ban
desain model atau pola tapak ban menentukan daya cengkram dan juga tingkat kenyamanan mobil. Tapak yang baik adalah yang berdesain normal. Untuk memberikan kenayamanan dalam penggunaan mobil sehari-hari. Tipe alur V yang agressif memiliki kemampuan mencengkram aspal dengan baik. Ban alur ini juga mampu mereduksi suara dari putaran ban. Kelebihan ban jenis ini adalah kemampuan untuk memberikan pengendalian yang lebih baik terhadap kondisi jalan basah dan saat berbelok.
Kode Kecepatan
Layaknya kinerja mesin, kinerja ban pun memiliki keterbatasan. Perhatikan huruf yang tercetak pada didinding ban. Walau pun, ini dimaksudkan bagi mobil ber-spesifikasi balap. Tapi jika, Anda melajukan mobil sampai kecepatan maksimum, pastikan ban dapat bertahan terhadap panas akibat rotasi ban yang berputar kencang.

Contoh : P195/55/R15 84V
Kode V disini menunjukkan kecepatan maksimal yang mampu diatasi oleh ban tersebut. Dalam hal ini adalah hingga 240 kph.

BAB VI
MEMULAI BISNIS
Komunikasi merupakan aktivitas dasar manusia. Dengan berkomunikasi, manusia dapat saling berhubungan satu sama lain baik dalam kehidupan sehari-hari di rumah tangga, di tempat pekerjaan, di pasar, dalam masyarakat atau di mana saja manusia berada. Komunikasi bisnis adalah pertukaran gagasan, pendapat, informasi, instruksi yang memiliki tujuan tertentu yang disajikan secara personal atau kelompok melalui simbolsimbol atau sinyal bisnis.  Unsur Pokok dalam Komunikasi Binis Dalam KOMUNIKASI BISNIS terdapat enam unsur pokok, yaitu:
1) Memiliki tujuan, artinya komunikasi bisnis harus memiliki tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya sejalan dengan tujuan organisasi.
 2) Pertukaran, dalam hal ini melibatkan paling tidak dua orang atau lebih yakni komunikator dan komunikan.
3) Gagasan, opini, informasi, instruksi merupakan isi dari pesan yang bentuknya beragam tergantung tujuan,situasi, dan kondisinya.
4) Menggunakan saluran personal atau Kelompok yang mungkin bersifat tatap muka, menggunakan media tertentu atau melalui media yang menjangkau jutaan orang secara bersamaan.
 5) Meggunakan simbol atau sinyal yang merupakan alat atau metode yang dapat dimengerti atau dipahami oleh penerima untuk menyampaikan pesan.
6) Pencapaian tujuan organisasi: salah satu karakteristik yang membedakan organisasi atau lembaga formal dari informasi adalah adanya tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya oleh manajemen.
7    (tujuh) Elemen Pentingdalam
Komunikasi Bisnis :
1) Struktur Bagaimana struktur komunikasi anda adalah dasar untuk mudah diserap dan dipahami oleh audiens anda. Setiap komunikasi yang baik harus memiliki tiga unsur struktural yaitu : (1)Membuka, (2)tubuh, (3)menutup. Tidak perduli apa bentuk komunikasi Anda, misalkan : memo, panggilan telepon, pesan voice mail, presentasi pribadi, pidato, email, halaman Web, atau presentasi multi-media. Komunikasi audiens anda, mungkin bisa hanya satu orang, sebuah tim kecil, kelompok orang bisa dalam skala nasional bahkan global.
 2) Kejelasan Messaqe yang anda ingin sampaikan harus jelas, dan jangan memberikan pesan yang membingungkan untuk audiens anda, supaya pesan anda tidakdiabaikan.
3) Konsistensi Informasi bisnis yang anda sampaikan jangan sampai inkonsistensi dari pesan yang telah anda sampaikan kepada pelanggan anda.
4) Pilihan Komunikasi Bisnis yang harus anda lakukan dengan menggunakan presentasi, pameran, ceramah, seminar, roadshow dll.
5) Relevansi. Realitas psikologis adalah bahwa konsumen tertarik pada subjek komunikasi bisnis , karena figur atau sesuatu yang di idolakan.
6) Jangkawaktu. Hal ini penting untuk mengetahui Kekuatan Komunikasi Bisnis atas sebuah produk barang atau jasa bisa diingat lebih lama oleh konsumen atau pelanggan.
 7) Psikologis Aturan 7±2 (tujuh plus / minus dua) Konsumen anda hanya mampu menerima pada antara lima dan sembilan informasi pada satu waktu.

BAB VII
KONSEP GAME TEORY

Strategi Sukses Wirausaha Muda “9 dari 10 pintu rizki ummatku ada diperdagangan” (Sabda Rasululloh Muhammad SAW) • Mulailah dengan mengerjakan apa yang perlu; lalu kerjakanlah apa yang mungkin; maka tiba-tiba anda mengerjakan yang mustahil; (St. Francis dari assisi) • “Seorang Pengusaha yang paling sukses adalah dia yang berpegang pada hal-hal lama selama hal itu masih baik dan merebut hal hal baru begitu terbukti hal itu lebih baik” (Robert P Vanderpoel)
Ide-ide Wirausaha Mahasiswa sukses adalah mahasiswa yang selalu mempunyai dan menemukan ide/gagasan untuk pengembangan karirnya. Terlebih-lebih jika mahasiswa tersebut mempersiapkan diri untuk menjadi seorang entrepreneur sukses, maka kreativitas dan inovasi adalah kata kuncinya. Beberapa ide wirausaha dibawah ini yang mungkin sederhana namun ”membumi” dapat dijadikan sebagai pedoman dalam memulai menjadi seorang Entrepreneur Sukses.
Ide ke-1 : Jual keunikan  Jika Anda tergolong mahasiswa kreatif dan inovatif, pasti banyak ide atau hal baru yang dapat Anda jadikan peluang usaha. Tidak sedikit usaha baru dimulai dari penemuan jenis produk, teknologi, sistem, dan program baru. Jika berhasil menciptakan sebuah keunikan, segera anda ambil hak paten dan menjualnya. Penemuan baru biasanya sangat berpeluang untuk menembus pasar, apalagi khas, unik, dan dibutuhkan orang banyak. Contoh nyata, orang membuat kaos-kaos unik dengan kata-kata yang penuh motivasi. Kaos tersebut memang biasa saja kalau dilihat sepintas, tapi karena ada keunikannya dengan kata-kata yang penuh inovasinya, bisa menambah nilai jual. Tentunya keuntungan bisa jauh lebih besar dengan keunikan yang mereka jual.  Ide Ke- 2 : Duplikasi Usaha Lain Bagi Anda yang merasa kurang kreatif dan inovatif, jangan putus asa. Percayalah, ide usaha tersebar dimana-mana, bahkan di depan mata. Anda harus selalu perlu membaca peluang, mengukur potensi, dan berani mengambil resiko. Misalnya, di sekitar Anda ada rumah makan bakmi yang cukup laris. Apa salahnya Anda bersaing secara sehat di tempat yang sama dengan produk yang sama. Anda cukup menduplkikasi usaha tersebut, tapi harus memberikan nilai tambah kepada konsumen, seperti pelayanan, harga, kecepatan, keramahan. Contoh pelayanan yang lebih memuaskan kepada konsumen adalah memberikan air teh gratis kepada konsumen atau memberikan porsi daging yang lebih banyak di banding pesaing anda. Ide Ke-3 : Usaha Fasilitas tambahan Selain menduplikasi, Anda juga bisa membuka usaha dengan memberikan usaha fasilitas tambahan, tapi ini harus dengan sedikit sentuhan kreativitas.  Misalnya, tetangga membuka warnet, maka anda masih bisa menyainginya dengan tambahan fasilitas atau memperluas penawaran yang ada. Anda bisa mendirikan warnet di lokasi sama. Hampir setiap waktu ada saja jenis usaha yang trend, seperti sekarang ini zamannya penyewaan komputer untuk bermain game(game zone). Dengan sedikit fasilitas tambahan, anda pun bisa memiliki usaha dan siap untuk berhasil. Misalnya, Anda bisa menyewa tempat di sekitar tempat penyewaan game zone tersebut dengan menjual minuman yang lagi trend sekarang ini, Bubble Tea. Itu sangat cocok dengan pangsa pasar Bubble Tea dan game zone untuk pangsa pasar anak sekolah. Ide Ke-4 : Jual Keterampilan Anda sendiri pun dapat menjual keterampilan yang Anda miliki. Jika bisa menggunting rambut, Anda bisa membuka salon. Dengan sedikit sentuhan yang berbeda dengan salon-salon lainnya, pasti salon Anda akan ramai di kunjungi konsumen.  Bagi Anda yang mahir mengetik 10 jari, tidak ada salahnya membuka usaha jasa pengetikan, seperti skripsi, naskah, makalah, dan lain-lain yang kemudian bisa Anda kembangkan dengan menerima jasa penerjemahan (translate). Ada banyak usaha yang bisa Anda buka berdasarkan keterampilan Anda Yakinlah anda punya potensi, punya keterampilan dan punya harapan besar untuk sukses menjadi seorang entrepreneur, meskipun sebagai entrepreneur pemula Mulailah belajar menghasilkan income melalui keterampilan sendiri semisal memberikan privat bahasa Inggris, Komputer, Matematika, Musik, Me nyanyi atau Jasa lain yang memungkinkan

BAB VIII
KEWIRAUSAHAAN DALAM BIROKRASI

Di era otonomi daerah ini menurut saya konsep mewirausahakan birokrasi sangatlah baik untuk diterapkan karena dengan adanya otonomi membuat setiap daerah berupaya untuk mengatur birokrasi agar dapat berjalan secara akuntabilitas, responsive, inovatif dan professional serta entrepreneur. entrepreneur disini berarti pemerintah daerah mempunyai semangat kewirausahaan dimana birokrasi diusahakan lebih inovatif dalam memberikan pelayanan public agar dapast menjawab perkembangan masyarakat di era globalisasi.
Mewirausahakan birokrasi sangatlah tepat diterapkan pada pendekatan
New Public Manajemen (NPM) dimana orientasi birokrasi yang lebih demokratis dan fleksibel tergantung pada perkembangan masyarakat, adanya tingkat rasio yang tinggi, dan masyarakat mempunyai posisi tawar yang tinggi dalam menerima pelayanan publik.
Konteks kemunculan mewirausahakan birokrasi berawal dari
1.      Organ pemerintah yang gemuk dan lamban, sehingga cenderung bersifat spending daripada mendatangkan profit dalam wilayah fiskal.
2.      Pelayanan publik yang tidak efektif dan lambat, sehingga melahirkan ketidakpercayaan masyarakat pada kapasitas pemerintah dalam menyelrnggarakan pelayanan public.



A.                Mewirausaha dalam Birokrasi Pemerintah Daerah
Mewirausahakan Birokrasi Pemerintah Daerah Di Era Good Local Governance pertama kali disampaikan oleh David Osborne dan Ted Gaebler dalam buku mereka yang berjudul Reinventing Government: How the enterpreneurial spirit is transforming the public sektor. Buku tersebut ditulis sebagai saran untuk membantu pencarian solusi di pemerintah Amerika Serikat pada tahun 1993 yang menanggung beban berat sebagai akibat ditanganinya seluruh kegiatan atau kebutuhan negara oleh pemerintah federal. Meskipun disambut dengan sikap skeptis, lambat namun pasti, apa yang disampaikan Osborne dan Gaebler dalam buku tersebut ternyata membawa angin segar bagi pemerintah federal dalam menyikapi permasalahan yang sedang dihadapi pada saat itu.
Mereka akan lebih banyak bekerjasama langsung dan lebih luas dengan swasta. Hal inilah yang menjadi cakupan dalam Reinventing Government yang sering disebut juga dengan Mewirausahakan Birokrasi. Permasalahan yang sering muncul dalam memahami reinventing government adalah adanya anggapan bahwa dengan adanya konsep mewirausahakan birokrasi tersebut berarti kantor dinas/ instansi di Pemerintahan Daerah (pemda) dituntut untuk “berbisnis” agar dapat memberi nilai tambah untuk PAD. Padahal, maksud yang sebenarnya adalah memberdayakan institusional. Bukan menciptakan “pengusaha” dalam lingkungan birokrasi pemerintahan
Transformasi kewirausahaan dalam birokrasi
Transformasi kewirausahaan kedalam birokrasi dapat dilakukan dengan landasan makro dan mikro, dan keduanya harus dijalankan secara bersama-sama serta berkesinambungan.
a.       Landasan Makro 
Adapun landasan makro yang dimaksud adalah merubah regulasi kepegawaian, pola pikir, budaya, dan nilai-nilai kerja para PNS agar mereka bertransformasi menjadi PNS sebagai pelayan masyarakat yang produktif dan kompetitif. Selain itu, harus dipastikan keberlangsungan berjalannya sistem yang baik, sehingga terjadi perubahan positif menuju perbaikan kualitas pelayanan publik secara terus-menerus. Dalam tataran praktek, upaya peningkatan kualitas pelayanan publik dapat dilakukan melalui pengembangan model-model pelayanan publik seperti model contracting out dan franchising. Adapun dalam model contracting out, pemerintah memegang peran sebagai pengatur, sedangkan pelayanan publik dilaksanakan oleh swasta melalui suatu proses lelang. Untuk model franchising, pemerintah menunjuk pihak swasta untuk dapat menyediakan pelayanan publik tertentu yang diikuti dengan price regularity untuk mengatur harga maksimum.
Berdasarkan landasan makro tersebut, maka kesemuanya akan dirinci lebih lanjut dalam   bentuk konkrit program (landasan mikro).
b.      Landasan Mikro
Adapun landasan mikro yang dimaksud adalah:
1)      Penetapan standar pelayanan. Didalamnya tercakup pengembangan Standard Operating      Procedures (SOP), pelanjutan (penyempurnaan) Standar Pelayanan Minimum (SPM)     yang telah dilaksanakan oleh Depdagri.
2)      Pelaksanaan survei pelayanan publik. Untuk survei ini, maka dia dapat dilakukan oleh     Kementrian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara.
3)      Pembuatan indeks pelayanan publik. Untuk indeks ini dapat berasal dari penerapan     SPM di bidang lingkungan hidup, kesehatan, sosial, dan pemerintahan (kabupaten/kota), penyusunan anggaran Pemda, dan bidang pendidikan.
4)      Pengembangan sistem manajemen pengaduan.
Dari sisi mikro, pengaduan masyarakat merupakan satu sumber informasi bagi  upaya-upaya pihak penyelenggara pelayanan publik (PNS) untuk secara konsisten menjaga pelayanan yang dihasilkannya agar sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, perlu didisain suatu sistem pengelolaan pengaduan yang secara cepat, efektif dan efisien dalam mengolah berbagai pengaduan masyarakat, sehingga pengaduan masyarakat tersebut menjadi bahan masukan bagi perbaikan kualitas pelayanan publik ke depan.
5)      Dengan menggunakan model contracting out dan franchising perusahaan yang   memegang pelayanan publik akan berusaha untuk tetap memberikan pelayanan yang baik karena sewaktu-waktu mereka dapat digantikan oleh perusahaan lain apabila mereka tidak memberikan pelayanan yang baik terhadap publik.

BAB IX
LIMA DISIPLIN ORGANISASI PEMBELAJARAN
Mencari peluang usaha bagi para pengangguran cukup mudah, karena seiring dengan berkembangnya zaman, maka dengan menggunakan media sosial pun dapat mencari jenis usaha apa saja yang dapat dilakukan serta teknik-teknik agar usaha dapat berkembang dengan pesat. Inovasi juga harus dilakukan agar tidak mengikuti usaha yang sudah ada, mungkin dengan bentuk yang sama namun dengan cara yang berbeda.
Mencari peluang usaha yang pertama adalah dengan bantuan mesin pencari bernama google. Informasi yang tersedia didalam google dapat dijadikan referensi untuk mencari jenis usaha apa saja yang sedang banyak diminati. Internet yang dapat menjelajah seluruh isi dunia menjadi solusi utama bagi siapa saja yang membutuhkan informasi. 
Semuanya sudah dirangkum dan dibagikan secara gratis, hanya mencari apa yang ingin dicari kemudian hasil akan muncul dengan sendirinya. Cara selanjutnya dengan mengikuti seminar wirausaha yang saat ini banyak dijalankan. Bagi mahasiswa, karyawan dan sebagainya dapat mengikuti seminar ini. Peluang usaha yang cukup mudah dengan modal sedikit banyak disebutkan di sana. Selain itu contoh seseorang yang sudah sukses juga membagi pengalamannya. 
Pada satu komunitas dalam lingkup yang relatif kecil, pernyataan visi akan lebih mudah terwujudkan oleh  karena kebutuhan serta persoalan  yang dihadapi masing-masing individu relatif sama. Pesamaan ini  adalah kekuatan yang realistis bagi komunitas itu, di mana persamaan  dapat membangkitkan karakteristik positif lainnya untuk mendorong  agar lahir suatu pernyataan dari mereka dengan harapan persoalan yang dihadapi  bersama dapat teratasi.  Dengan demikian harapan atau cita-cita yang ingin dicapai oleh masing-masing individu dalam kelompok itu lebih realistis, serta visi bersama terbangun dengan sendirinya tanpa mengalami hambatan yang berarti. Hal ini menunjukkan bahwa jika dalam satu komunitas  mengalami masalah yang sama serta menyadari bahwa persoalan itu adalah persoalan bersama maka visi bersama akan terbangun dengan sendirinya.

Dalam membangun institusi atau lembaga daerah,  katakan pada tingkat distrik,  mestinya dilakukan  berdasarkan  visi  yang telah  dibangun secara  bersama oleh  seluruh  elemen  yang terdapat dalam distrik tersebut.  Hal ini  disebabkan  untuk  menghindari adanya  institusi atau lembaga yang dibentuk tidak berfungsi  dalam  mendukung visi.  Jika hal ini terjadi  tentu  pemborosan  dari  segi  anggaran  dan  waktu  tidak  terhindarkan, dan  visipun sulit terjangkau.  Konteks  ini  tentu sangat berkaitan dengan  saat awal  pembentukan distrik, di mana visi  yang digunakanpun  ialah  visi  distrik  bukan  visi  menejer  yang  akan  memimpin  di distrik itu.  Dengan  demikian  akan terbentuk  unit-unit  kerja sesuai kebutuhan  visi  baik dalam  jangka pendek maupun jangka pangjang selama eksistensi  distrik masih dipertahankan.  Sesungguhnya  konsep ini merupakan bentuk lain dari pelayanan  terhadap konstruksi visi  yang telah  disepakati  bersama.
Konsep “Good Governance” atau  kepemerintahan yang  baik  mengajarkan, bahwa terdapat 3 domain yang mendukung keberadaannya, yaitu unsur pemerintah, masyarakat, dan pengusaha disertai batasan tanggungjawab masing-masing dalam membangun kebersamaan.  Tentu visi   yang  menjadi  cita-cita  merupakan  milik  bersama, dengan kata lain ketiga domain ini harus merasa bahwa keberhasilan visi  ini adalah  tanggungjawab  bersama.  Dalam kebersamaan ini  kedudukan antara ketiganya  juga sama,  tak ada kelebihan  yang satu dari yang lain, oleh karena itu visi  yang terbangun  haruslah mampu mengakomodir kepentingan dari ketiga unsur ini.  Akan lebih baik  pada saat  pembentukannya,  dilakukan pencermatan  serta  perhitungan  yang akurat  terhadap lingkungan internal dan eksternal visi (Intelectual Vision),  kemudian upayakan  agar  ianya memiliki kharisma,  sehingga terjadi  hubungan emosional  yang tinggi  antara ketiga unsur domain tadi  dengan visi (Emotional Vision)