BAB I
PENDAHULUAN
A.
Ada
Apa Dengan Angkatan Kerja Di Indonesia
Tenaga kerja merupakan faktor penting dalam pembangunan ekonomi suatu negara.
Tetapi tenaga kerja juga dapat menjadi faktor penghambat apabila tenaga kerja
yang ada mendatangkan berbagai macam masalah. Ketenagakerjaan di Indonesia
masih kurang optimal dalam mendorong pembangunan ekonominya. Masih banyak
permasalahan dalam dunia ketenagakerjaan di Indonesia. Berikut ini berbagai
masalah ketenagakerjaan yang dihadapi oleh pemerintah
1.
Tingkat Pengangguran yang
Tinggi
Pengangguran
merupakan salah satu masalah yang berpengaruh besar bagi perekonomian
Indonesia. Jumlah angka pengangguran di Indonesia selalu mengalami peningkatan.
Hal ini terjadi karena beberapa faktor antara lain :
•
Pertambahan
penduduk lebih besar daripada pertambahan lapangan kerja. Akibatnya tidak semua
penduduk dapat ditampung oleh lapangan kerja yang ada.
•
Rendahnya
kualitas tenaga kerja. Mereka tidak mampu bersaing dengan tenaga kerja yang
memiliki kualitas yang lebih baik. Akibatnya oarang-orang yang mempunyai
kualitas rendah akan menganggur.
•
Lowongan kerja
yang ada tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan. Orang-orang yang
mempunyai latar belakang berbeda dengan yang diharapkan perusahaan,tidak dapat
bekerja. Akibatnya pengangguran bertambah.
•
Kondisi
perekonomian yang tidak baik. Terjadinya krisis ekonomi menyebabkan banyak
perusahaan/ industri yang gulung tikar. Akbatnya banyak tenaga kerja yang
diberhentikan.
Tingginya jumlah pengangguran di
Indonesia menimbulkan dampak negatif, antara lain :
•
Tingkat
kesejahteraan menurun
•
Angka
kriminalitas meningkat,misalnya pencurian, penjambretan dll.
•
Kualitas hidup
menurun yaitu seperti lingkungan yang kotor(tidak sehat)
•
Produktivitas
menurun
•
Menurunnya
tingkat kesehatan dan kekurangan pangan
•
Peningkatan
jumlah anak jalanan,gelandangan, pengamen dan sebagainya
•
Menurunnya
pendapatan negara dari penerimaan pajak penghasilan
•
Bertambahnya
biaya sosial negara
2. Meningkatnya Angkatan
Kerja
Jumlah
angkatan kerja terus meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk.
Semakin besar jumlah penduduk maka semakin besar angkatan kerja. Hal ini aka
menjadi beban tersendiri bagi perekonomian. Jika meningkatnya angkatan kerja
tidak diimbangi dengan bertambahnya lapangan kerja akan menyebabkan masalah
pengangguran. Akbatnya orang yang menganggur tidak yang memperoleh penghasilan
sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Ini menyebabkan kesejahteraan
menurun.
Hal tersebut
sangat berlawanan dengan harapan pemerintah,yaitu semakin banyaknya jumlah
angkatan kerja diharapkan dapat menjadi pendorong pembangunan ekonomi.
3. Mutu Tenaga Kerja yang Rendah
Sebagian besar
tenaga kerja indonesia berpendidikan rendah dengan keterampilan dan keahlian
yang kurang memadahi. Sehingga belum memiliki keterampilan dan pengalaman untuk
memasuki dunia kerja. Mutu tenaga kerja yang rendah mengakibatkan kesempatan
kerja semakin kecil dan terbatas. Keterampilan dan pendidikan yang terbatas
akan membatasi ragam dan jumlah pekerjaan.
4. Persebaran Tenaga Kerja yang Tidak Merata
Persebaran
tenaga kerja di Indonesia tidak merata. Di Daerah Pulau Jawa tenaga kerja
menumpuk sementara di luar Pulau Jawa kekurangan tenaga kerja. Ini menyebabkan
di Pulau Jawa banyak pengangguran dan di luar Pulau Jawa pembangunan akan
terhambat karena kekurangan tenaga kerja untuk mengolah sumber daya alam yang
ada.
B.
Perubahan
Pola Pikir Oleh Perguruan Tinggi Dan Masyarakat
Banyak entrepreneur yang tidak meyadari
bahwa dunia ini penuh dengan perubahan dan mereka tidak boleh duduk duduk
enak melewati hidup dari keuntungan tanpa kewaspadaan . karena manusia selalu
menyangkal realita realita baru dan terbelenggu oleh realita realita
lama , rutinitas dan engga berfikir tentang hal hal yang baru, semua itu
dibentuk oleh mindset kita.
Mindset
Menggerakan Perilaku
pola pikir atau mindset adalah
keseluruhan/kesatuan daru keyakinan yang kita miliki,nilai nilai yang kita
anut,kriteria,harapan,sikap,kebiasaan. keputusan dan pendapat yang tidak di keluarkan dalam
memandang diri kita sendiri, orang lain atau kehidupan ini. mindset adalah semacam
filter yang kita bangun untuk menafsirkan apa saja yang kita lihat dan kita
alami.
Mengubah
Pola Pikir
Apakah pola pikir bisa di rubah? "bisa"
karena pola pikir merupakan hasil dari sebuah proses pembelajaran (leaning),
maka pola pikir bisa juga di ubah (unleaning), dan di bentuk ulang (releaning). Ada pola pikir yang bisa
kita ubah dengan bantuan para ahli seperti psikologi, ahli mindset transformasi
atau terapis Nlp (Neoro Lingulstik Program).
Pola Pikir Entrepreneur
Pola pikir seseorang entrepreneur menonjol dalam banyak
hal, seorang entrepreneur berkarakter produktif, bukan konsumtif.
Hambatan
Persepsi Saat Memulai Usaha
Pada saat akan memulai usaha
banyak entrepreneur pemula yang mempunyai hambatan mental berupa persepsi
yang negatif tentang kemampuan dirinya Untuk memulai usaha,
kita harus butuh tiga (3) M, yaitu:
1.Motivasi yang kuat
2.Mindset
yang tepat(produktif,kreatif,positif)
3.Make it (lakukan saja)
C. Kewirausahaan Suatu Pengantar
Membangun Karakter Positif Melalui
Pembentukan Mindset Wirausaha Oleh: Hery Wibowo Dewasa ini, terjadi pertumbuhan
penduduk yang sangat pesat terutama di negara-negara berkembang seperti
Indonesia. Hal ini menyebabkan dibutuhkannya lapangan kerja yang sangat banyak
di Indonesia, namun pada kenyataannya lapangan pekerjaan sangat berbanding
terbaik dengan jumlah ledakan penduduk yang terjadi sehingga banyak timbulnya
masalah-masalah sosial seperti kemiskinan, premanisme, kriminalitas, dan lain
sebagainya. Semua ini karena minimnya lapangan pekerjaan yang dimiliki
Indonesia, oleh karena ini saat ini banyak orang yang mulai menyadari tentang
pentingnya ilmu kewirausahaan. Kesadaran tentang kewirausahaan ini tidak
terbatas hanya pada konsep berdagang saja melainkan merambah ke konsep mental
yang kreatif, inovatif, serta mampu mewujudkan ide dan gagasan-gagasan. Hal ini
pula yang berusaha disampaikan oleh Pak Hery Wibowo dalam bukunya yang berjudul
“Kewirausahaan Suatu Pengantar”.
Pada
bab awal buku ini, kita akan disuguhi dengan pola pikir kewirausahaan serta
metode kewirausahaan. Pola pikir kewirausahaan adalah suatu asumsi dasar, nilai
atau yang mendasari pemikiran kita, pola pikir inilah yang membedakan satu
individu dengan individu lain sedangkan metode kewirausahaan merupakan cara
kita untuk menjalankan aktivitas kewirausahaan secara nyata agar menghasilkan
keuntungan bagi pengelolanya. Pola pikir dan metode ini akan lebih sempurna
jika dilaksanakan secara seimbang oleh seorang wirausaha. Selain itu,
kewirausahaan juga berhubungan erat dengan pendidikan di Indonesia, pendidikan
yang baik adalah yang mampu untuk menciptakan kreator muda yang berhasil. Kewirausahaan
juga memiliki banyak jenis , inilah yang menyebabkan kewirausahaan jaman
sekarang ini berkembang dengan sangat pesat. Jika ingin lebih banyak tau
tentang buku ini, silahkan dibeli, tidak akan rugi.
BAB II
SAATNYA BERWIRAUSAHA
Banyak cara untuk menjadi peternak
sukses, salah satu komoditas ternak yang sedang nge-trend saat ini yaitu ternak ayam kampung.
Bagaimana tidak, akhir-akhir ini banyak sekali ulasan di media cetak maupun
elektronik yang mengulas mengenai kesuksesan para peternak ayam kampung di
tanah air, rata-rata mereka adalah sosok yang memiliki komitmen,mental serta
jiwa wirausaha yang kuat. Dari hasil jerih payahnya minimal 2 tahun fokus ternak ayam kampung,sehingga
menjadi pionir/pemimpin peternak di daerah tersebut, sehingga bisa menjadi
panutan dan acuan peternak baru di kawasan tersebut. Usaha ternak ayam kampung saat
ini tampaknya memang menjadi salah satu komoditas usaha yang cukup baik,
mengingat bahwa indonesia memiliki potensi tinggi di bidang peternakan dan
pertanian.
A.
Karakteristik
Wirausaha
Berikut
ini adalah beberapa ciri-ciri atau karakteristik seorang wirausaha yang jarang
dimiliki oleh masyarakat Indonesia.
1.
Memiliki
Rasa Percaya Diri
Entah karena takut salah atau karena hal lain, masyarakat
Indonesia masa kini menjadi tidak memiliki kepercayaan diri. Hal tersebut
terbukti saat mereka duduk dibangku pendidikan. Saat ditanya oleh guru atau
dosen, jarang diantara mereka yang berinisiatif untuk mengangkat tangan dan
menjawab pertanyaan sang guru. Bahkan beberapa diantara mereka lebih memilih
ditunjuk daripada mengangkat tangan mereka.
2.
Berorientasi
pada Tugas dan Hasil
Maksudnya
adalah seorang wirausaha harus mempunyai sikap tanggung jawab pada tugas-tugas
yang dibebankan kepadanya. Ia juga harus bertanggung jawab pada hasil dari
tugas yang dibebankannya. Dan sayangnya, masyarakat Indonesia sangat sedikit
yang memiliki sikap ini. Sebagian dari mereka menganggap enteng tugas-tugas
yang dibebankan padanya. Misalnya saja, bila seorang mahasiswa diberi tugas
yang akan dikumpulkan sampai hari Senin, ia akan mengumpulkan tugasnya pada
hari Minggu atau bahkan hari Senin.
3.
Berani
Mengambil Resiko
Sebagai
wirausaha yang baru, seseorang haruslah berani mengambil resiko dan
menghadapi resiko apapun terhadap langkah yang telah diambilnya.
Seseorang pernah berkata bahwa kita tidak akan pernah memulai sesuatu jika
belum pernah mengalami kegagalan. Kemauan dan kemampuan untuk mengambil resiko
merupakan salah satu nilai utama dalam kewirausahaan. Wirausaha yang tidak mau
mengambil resiko akan sukar memulai atau berinisiatif.
4. Memiliki
Jiwa Kepemimpinan
Kepemimpinan
sangat dibutuhkan oleh seorang wirausaha untuk memimpin anak-anak buahnya atau
pegawainya. Seseorang tidak akan bisa menjadi seorang wirausaha bila ia tidak
bisa memimpin, baik memimpin diri sendiri maupun memimpin orang lain.
Seorang
wirausaha yang berhasil selalu memiliki sifat kepemimpinan, kepeloporan dan
keteladanan. Ia selalu ingin tampil berbeda, lebih dahulu, dan lebih menonjol.
Dengan menggunakan kemampuan kreativitas dan inovasi, ia selalu menampilkan
barang dan jasa-jasa yang dihasilkannya lebih cepat, lebih dahulu dan segera
berada dipasar. Ia selalu menampilkan produk-produk dan jasa-jasa baru dan
berbeda sehingga ia menjadi pelopor yang baik dalam proses produksi maupun
pemasaran. Ia selalu memanfaatkan perbedaan sebagai suatu yang menambah nilai.
Karena itu, perbedaan bagi seseorang yang memiliki jiwa kewirausahaan merupakan
sumber pembaharuan untuk menciptakan nilai. Ia selalu ingin bergaul untuk
mencari peluang, terbuka untuk menerima kritik dan saran yang kemudian
dijadikan peluang. Seorang wirausaha harus memiliki kemampuan untuk menggunakan
pengaruh tanpa kekuatan. Seorang wirausaha juga harus memiliki taktik mediator
dan negosiator daripada diktator.
5. Keorisinilan
Keorisinilan
atau keaslian maksudnya bahwa orang yang ingin menjadi wirausaha mempunyai
ide-ide kreatif yang asli dan murni dari dirinya, bukan dari orang lain atau
hasil dari plagiarism. Namun sayangnya, kebanyakan masyarakat Indonesia
saat ini tak mau berfikir dan mengemukakan pendapatnya kepada orang lain. Dan
karena hal tersebut, kebanyakan masyarakat saat ini lebih menyukai menjiplak
pendapat orang lain dan yang lebih parahnya lagi, mereka bisa mengatasnamakan
jiplakannya tersebut sebagai hasil karyanya.
6. Berorientasi
ke Masa Depan
Seorang
wirausaha harus mempunyai pandangan tentang masa depannya dan sangat bertekad
untuk meraih kesuksesan di masa depan. Seorang wirausaha haruslah bisa
memprediksi kebutuhan-kebutuhan apa saja yang sangat dibutuhkan oleh mangsa
pasarnya di kemudian hari, tidak stuck hanya memikirkan
kebutuhan-kebutuhan yang dibutuhkan masyarakat saat ini.
7. Jujur dan Tekun
Kejujuran
dan ketekunan merupakan kunci kesuksesan,’ begitulah pepatah mengatakan.
Ternyata untuk menjadi seorang wirausaha juga dibutuhkan sikap jujur dan tekun.
Jujur terhadap diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan pegawai-pegawainya.
Tekun dalam mencari ide-ide baru yang lebih kreatif dari ide-ide yang sudah ada
dan tekun dalam merintis usahanya yang baru akan mulai berkembang. Jika seorang
wirausaha tidak jujur dan tidak tekun, bisa dipastikan wirausaha tersebut tidak
akan berhasil dalam usahanya.
8. Memiliki
Motif Berprestasi Tinggi
Kebutuhan
berprestasi wirausaha terlihat dalam bentuk tindakan untuk melakukan sesuatu
yang lebih baik dan lebih efisien dibandingkan sebelumnya. Wirausaha yang
memiliki motif berprestasi pada umumnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1. Ingin mengatasi sendiri kesulitan dan persoalan-persoalan
yang timbul pada dirinya.
2. Selalu memerlukan umpan balik yang segera untuk melihat
keberhasilan atau kegagalan.
3. Memiliki tanggung jawab personal yang tinggi.
4. Berani menghadapi resiko dengan penuh perhitungan.
5. Menyukai tantangan dan melihat tantangan secara seimbang.
Jika tugas yang diemban seorang wirausaha dirasa sangat ringan, maka wirausaha
merasa kurang tantangan, tetapi ia selalu menghindari tantangan yang paling
sulit yang memungkinkan pencapaian keberhasilan sangat rendah.
9. Memiliki
Kreativitas Tinggi
Menurut
Teodore Levite, kreativitas adalah kemampuan untuk berfikir tentang hal-hal
baru dan berbeda. Oleh karena itu, menurutnya kewirausahaan adalah berfikir dan
bertindak sesuatu yang baru atau berfikir tentang sesuatu yang lama dengan
cara-cara yang baru. Kreativitas adalah menciptakan sesuatu dari yang asalnya
tidak ada. Rahasia kewirausahaan dalam menciptakan nilai tambah barang dan jasa
terletak pada penerapan kreativitas dan inovasi untuk memecahkan masalah dan
meraih peluang yang dihadapi setiap hari.
10. Memiliki Perilaku Inovatif Tinggi
Menjadi
wirausaha yang handal tidaklah semudah yang dibayangkan. Namun, wirausaha juga
tidak sesulit yang dibayangkan oleh kabanyakan orang, karena walau bagaimanapun
setiap orang sedang dalam proses belajar berwirausaha. Setiap wirausaha harus
selalu berkreasi dan berinovasi agar usahanya tetap berkembang meski
menjamurnya saingan. Sesungguhnya kewirausahaan dalam batas tertentu adalah
untuk semua orang. Setiap orang memiliki cita-cita, impian, atau
sekurang-kurangnya harapan untuk meningkatkan kualitas hidupnya sebagai
manusia. Hal ini merupakan semacam ‘intuisi’ yang mendorong manusia normal
untuk bekerja dan berusaha. ‘Intuisi’ ini berkaitan dengan salah satu potensi
kemanusiaan, yakni daya imajinasi kreatif yang dapat digunakan untuk berkreasi
dan berinovasi.
11. Selalu Memiliki Komitmen dalam
Pekerjaan, Etos Kerja dan Tanggung Jawab
Seorang
wirausaha harus memiliki jiwa komitmen dalam usahanya dan tekad yang bulat
didalam mencurahkan semua perhatiannya pada usaha yang digelutinya. Dalam
menjalankan usahanya tersebut, seorang wirausaha yang sukses terus memiliki
tekad yang menggebu-gebu dan memiliki semangat yang tinggi dalam mengembangkan
usahanya.
12. Mandiri atau Tidak Ketergantungan
pada Orang Lain
Sesuai
dengan inti dari jiwa kewirausahaan yaitu kemampuan untuk menciptakan sesuatu
yang baru dan berbeda melalui berfikir kreatif dan bertindak inovatif untuk
menciptakan peluang dalam menghadapi tantangan hidup, maka seorang wirausaha
harus mempunyai kemampuan kreatif dalam mengembangkan ide dan pikirannya
terutama dalam menciptakan peluang usaha yang digelutinya tanpa harus
bergantung pada orang lain.
13. Selalu Mencari Peluang
Esensi
kewirausahaan yaitu tanggapan yang positif terhadap peluang untuk memperoleh
keuntungan untuk diri sendiri dan atau pelayanan yang lebih baik pada pelanggan
dan masyarakat, cara yang etis dan produktif untuk mencapai tujuan, serta sikap
mental untuk merealisasikan tanggapan yang positif tersebut. Pengertian itu
juga menampung wirausaha yang bukan pengusaha, termasuk yang mengelola
organisasi nirlaba yang bertujuan untuk memberikan pelayanan yang lebih baik
bagi pelanggan/masyarakat.
14. Memiliki Kemampuan Manajerial
Salah satu
jiwa kewirausahaan yang harus dimiliki seorang wirausaha adalah kemampuan untuk
memanajerial atau mengurus usaha yang sedang digelutinya. Seorang wirausaha
harus memiliki kemampuan perencanaan usaha, mengorganisasikan usaha,
memvisualisasikan usaha, mengelola usaha dan sumber daya manusia, mengontrol
usaha, maupun kemampuan mengintegrasikan operasi perusahaannya yang kesemuanya
itu adalah merupakan kemampuan manajerial yang wajib dimiliki dari seorang
wirausaha. Tanpa itu semua, seorang wirausaha tidak akan mendapat keberhasilan,
melainkan kegagalan.
B.
Mengenal
potensi diri dan pengembangan diri
Sebelum kita memahami akan konsep mental
wirausaha. Alangkah baiknya kita ulas pengertian dari wirausaha. Secara
sederhana arti wirausahawan (entrepreneur) adalah orang yang berjiwa berani
mengambil resiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan. Berjiwa berani
mengambil resiko artinya bermental mandiri dan berani memulai usaha tanpa
diliputi rasa takut atau cemas sekalipun dalam kondisi tidak pasti. Kegiatan
wirausaha dapat dilakukan seorang diri atau berkelompok. Seorang wirausahawan
dalam pemikirannya selalu berusaha mencari, memanfaatkan, serta menciptakan
peluang usaha yang dapat memberikan keuntungan. Resiko kerugian merupakan hal
yang biasa karena mereka memegang prinsip bahwa faktor kerugian pasti ada.
Bahkan, semakin besar resiko kerugian yang bakal dihadapi, semakin besar pula
peluang keuntungan yang diraih. Tidak ada istilah rugi selama seseorang
melakukan usaha dengan penuh keberanian dan penuh perhitungan. Inilah yang
disebut dengan jiwa wirausaha.
Ada beberapa pengembangan potensi diri
yaitu :
1. Potemsi
fisik
2. Potensi
intelektual
3. Potensi
social
4. Potensi
spiritual
5. Potensi
daya juang
BAB III
ETIKA BERWIRAUSAHA BISNIS
Etika Bisnis merupakan cara untuk melakukan kegiatan
bisnis, yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan
dan juga masyarakat. Etika Bisnis dalam suatu perusahaan dapat membentuk nilai,
norma dan perilaku karyawan serta pimpinan dalam membangun hubungan yang adil
dan sehat dengan pelanggan/mitra kerja, pemegang saham, masyarakat.
A.
Mengapa
Etika?
Etika
bisnis merupakan studi yang dikhususkan mengenai moral yang benar dan salah.
Studi ini berkonsentrasi pada standar moral sebagaimana diterapkan dalam
kebijakan, institusi, dan perilaku bisnis (Velasquez, 2005). Dalam menciptakan
etika bisnis, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain adalah:
1. Pengendalian diri
2. Pengembangan tanggung jawab social (social
responsibility)
3. Mempertahankan jati diri dan tidak mudah untuk
terombang-ambing oleh pesatnya perkembangan informasi dan teknologi
4. Menciptakan persaingan yang sehat
5. Menerapkan konsep “pembangunan
berkelanjutan”
6. Menghindari sifat 5K (Katabelece, Kongkalikong, Koneksi,
Kolusi, dan Komisi)
7. Mampu menyatakan yang benar itu
benar
8. Menumbuhkan sikap saling percaya antara golongan pengusaha
kuat dan golongan pengusaha ke bawah
9. Konsekuen dan konsisten dengan
aturan main yang telah disepakati bersama
10. Menumbuhkembangkan kesadaran dan rasa memiliki terhadap apa
yang telah disepakati
11. Perlu adanya sebagian etika bisnis yang dituangkan dalam
suatu hokum positif yang berupa peraturan perundang-undangan
B. Konsep Etika Berwirausaha Bisnis
Wirausaha adalah seseorang yang bebas
dan memiliki kemampuan untuk hidup mandiri dalam menjalankan kegiatan usahanya
atau bisnisnya atau hidupnya. Ia bebas merancang, menentukan mengelola,
mengendalikan semua usahanya. Sedangkan kewirausahaan adalah suatu sikap, jiwa
dan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru yang sangat bernilai dan
berguna bagi dirinya dan orang lain. Kewirausahaan merupakan sikap mental dan
jiwa yang selalu aktif atau kreatif berdaya, bercipta, berkarsa dan bersaahaja
dalam berusaha dalam rangka meningkatkan pendapatan dalam kegaitan usahanya
atau kiprahnya. Seorang yang memiliki jiwa dan sikap wirausaha selalu tidak
puas dengan apa yang telah dicapainya. Wirausaha adalah orang yang terampil
memanfaatkan peluang dalam mengembangkan usahanya dengan tujuan untuk meningkatkan
kehidupannya. Pada hakekatnya semua orang adalah wirausaha dalam arti mampu
berdiri sendiri dalam menjalankan usahanya dan pekerjaannya guna mencapai tujuan
pribadinya, keluarganya, masyarakat, bangsa dan negaranya.
C. Moral Dan Etika Dalam Berwirausaha
Kewirausahaan (Entrepreneurship) atau Wirausaha adalah proses mengidentifikasi,
mengembangkan, dan membawa visi ke dalam kehidupan. Visi tersebut bisa berupa
ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu. Hasil
akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha baru yang dibentuk pada
kondisi risiko atau ketidakpastianKewirausahaan memiliki arti yang berbeda-beda
antar para ahli atau sumber acuan karena berbeda-beda titik berat dan
penekanannya.
Definisi ini mengandung asumsi bahwa
setiap orang yang mempunyai kemampuan normal, bisa menjadi wirausaha asal mau
dan mempunyai kesempatan untuk belajar dan berusaha. Berwirausaha melibatkan
dua unsur pokok (1) peluang dan, (2) kemampuan menanggapi peluang, Berdasarkan
hal tersebut maka definisi kewirausahaan adalah “tanggapan terhadap peluang
usaha yang terungkap dalam seperangkat tindakan serta membuahkan hasil berupa
organisasi usaha yang melembaga, produktif dan inovatif.
D. Contoh Sederhana Etika Berwirausaha
Bisnis
Ada beberapa contoh
sederhana dalam berwirausaha yaitu :
1. Cermat
harga pasar
Jika ingin memulai bisnis ini kita harus cermat akan harga pasaran mobil
tersebut. Jangan sampai kita menjual rugi kendaraan tersebut hanya karena
ketidaktahuan akan harga mobil dipasaran. Ini akan membuat kita rugi.
2. Mengenal
kerusakan
Sebaiknya Kawan Kapsul mengenal berbagai macam tipe kerusakan mobil.
Sehingga ketika ingin membeli sebuah mobil bekas untuk dijual kembali kita pun
bisa tetap meraih keuntungan yang banyak.
3. Mengetahui
seluk-beluk kendaraan
Untuk memulai usaha mobil bekas kita harus mempunyai pengetahuan tentang
seluk beluk keseluruhan mobil agar bisa meminimalisir pengeluaran. Jika
mobil yang ingin dijual terdapat kerusakan yang serius kita juga dapat
memperkirakan biaya yang akan dikeluarkan.
4. Relasi
Kawan Kapsul dapat memanfaatkan relasi untuk menjalankan bisnis ini untuk
jual beli kendaraan. Ini sangat penting, karena diawal kita membuka usaha
karena belum banyak orang yang tahu bahwa kita berbisnis mobil bekas.
5. Lokasi
strategis
Jika ingin membuka showroom mobil bekas, pilihlah lokasi yang banyak
kendaraan lalu lalang. Dengan demikian banyak calon pembeli melihat usaha yang
kita jalankan. Dan mungkin salah satu dari mereka akan mampir dan membeli mobil
yang kita pasarkan.
6. Pelayanan
prima
Kita juga harus bisa membawa calon pembeli untuk bisa membeli mobil bekas
tersebut secara nyaman agar mereka tidak ragu ketika membeli mobil bekas yang
kita jual. Kalau perlu kita bisa berikan garansi atau jaminan jika mobil yang
dijual mempunyai kelegalitasan yang paten baik dan kondisi mobil yang bagus
pula.
7. Berkerja
sama dengan pihak finance
Tidak hanya mobil baru, membeli mobil bekas pun sekarang bisa dengan cara
kredit. Untuk itu jalinlah kerjasama dengan pihak finance untuk dapat
mengakomodir konsumen yang ingin membeli mobil secara kredit.
BAB IV
CORPORATE SOCIAL RESPONBILITT
A.
Konsep
CSR
a.
Prinsip-prinsip dari CSR seperti akuntabilitas, transparansi, kode etis,
perhatian terhadap pemangku kepentingan, aturan hukum, norma-norma
internasional dan HAM.
b.
Identifikasi dan kerjasama (engagement) dengan pemangku kepentingan.
c. Core subject” dari CSR seperti
tata kelola organisasi/perusahaan, HAM, buruh, lingkungan, praktek-praktek yang
fair, isu-isu konsumen dan pelibatan dan pengembangan masyarakat. Masing-masing
dari “core subject” ini mempunyai berbagai isu-isu CSR terkait.
d. Panduan teknis untuk menerapkan
dan mengintegrasikan CSR di organisasi/perusahaan kita.
Yang sangat dibutuhkan oleh kita
adalah panduan teknis tersebut agar CSR tersebut bisa kita rancang dan terapkan
sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan sesuai dengan harapan dari pemangku
kepentingan yang relevan. Langkah pertama diawali dengan bagaimana perusahaan
untuk menentukan relevansi dan signifikansi dari isu-isu CSR dari perusahaan
kita, jadi kita akan menentukan “core subject” dan isu-isu CSR yang terkait
dengan perusahaan kita.
Setelah itu baru kita menetapkan
kebijakan, tujuan dan sasaran termasuk Action plan/program terkaitnya. Dari
sini kita bisa mengarahkan akan dibawa kemana CSR kita ini dan akan menjadi
bagian yang penting dari kegiatan perusahaan kita. Agar penerapannya menjadi
lebih efektif dan konsisten maka setiap isu-isu CSR dan program yang telah
ditetapkan harus dibuatkan prosedur-prosedur tertulisnya.
Tidak ketinggalan proses untuk
sosialisai standar ini kesemua tingkat diperusahaan termasuk menyiapkan tim
inti untuk kompetensi terkait dalam penerapan CSR ini, misal bagaimana teknik
untuk melakukan identifikasi pemangku kepentingan dll. Nah, mudah-mudahan dari
uraian singkat dari ISO 26000 ini sebagai sebuah panduan yang cukup lengkap
dalam penerapan CSR bisa memberikan informasi awal bagi kita semua.
Tren
perusahaan-perusahaan dalam melakukan kegiatan Corporate Social Responsibility
(CSR) semakin meningkat. Mayoritas kegiatan-kegiatan CSR tersebut berbentuk
“charity” yaitu memberikan sesuatu kepada suatu komunitas masyarakat bisa
berupa sandang atau pangan. Sebagian kecil perusahaan sudah menambahkan dalam
CSRnya berupa program perberdayaan masyarakat (“empowerment”). Pertanyaannya
adalah apakah kegiatan CSR tersebut sudah tepat sasaran dan efektif? Sebelum kita menggunakan berbagai
metodologi atau standar-standar dalam penerapan CSR (misal ISO 26000) yang
tentunya kita perlu waktu untuk belajar dulu atau mungkin perlu bantuan
konsultan CSR, sebetulnya ada kiat yang sangat mudah untuk menetapkan program
CSR dan mengukur efektifitas pelaksanaannya. Kiat tersebut adalah sesuatu yang
ada di depan mata kita dan kita biasa mendengarnya, yaitu AMDAL.
BAB V
MENGENAL TIPE KENDARAAN
Ban
merupakan bagian dari mobil yang juga memiliki peran besar dalam mendukung
kinerja kendaraan tersebut. Permasalahan yang terjadi pada ban tidak hanya
membuat mobil tidak dapat dikendarai, namun juga dapat menimbulkan kecelakaan.
Di lain
pihak ban juga memiliki beragam spesifikasi yang terkadang membingungkan
konsumen dalam menentukan pilihannya. Yang umum dijadikan panduan untuk memilih
ban adalah disesuaikan dengan velg yang digunakan, merk dan harga. Ban yang
mahal mungkin menawarkan berbagai kelebihan, namun jika spesifikasinya tidak
sesuai maka kinerja yang dihasilkan mobil pun tidak optimal. Oleh karena itu
kenalilah terlebih dahulu spesifikasi ban sebelum menggantinya dengan yang
baru. Berikut ini panduannya :
Kebutuhan
Tentukan
kebutuhan akan penggunaan ban. Ban mobil yang digunakan untuk beraktivitas
sehari-hari tentu memiliki standard yang berbeda dengan ban yang digunakan pada
ajang kompetisi.
Tipe dan Ukuran
Ban yang
menghasilkan kinerja optimal terhadap mobil yang digunakan adalah ban yang direkomendasikan
oleh manufaktur atas dasar berbagai perhitungan. Untuk mengetahui tipe dan
ukuran ban yang direkomendasikan oleh manufaktur kendaraan, cek di buku manual
mobil yang bersangkutan atau pada bagian plakat yang melekat pada area sisi
pintu.
Contoh
195/55/R15 :
- Angka 15 menunjukkan ukuran diemeter velg dalam satuan inchi.
- Angka 195 menunjukkan ukuran lebar ban dengan satuan milimiter.
- Angka 55 menunjukkan ukuran aspek ratio untuk ketebalan ban (%) dari lebar telapak ban.
Variasi Ban
Sebagai contoh,
ukuran P195/55/R15 84V. P di bagian depan merupakan symbol dari (Passenger) ini
berarti ban tersebut diperuntukan bagi mobil penumpang. Misalnya, LT (Lite
Truck) mengacu untuk ban yang biasanya digunakan pada truk yang beratnya
sedang, ST (Special Trailer) untuk mobil trailer, T (Temporary) untuk ban
cadangan. Sedangkan R berarti jenis ban radial. Umumnya terdapat 2 jenis ban di
pasaran, jenis radial dan bukan radial (biasa). Secara sepintas tidak ada yang
beda, yang membedakan hanya pada konstruksinya saja.
Pola Tapak Ban
desain
model atau pola tapak ban menentukan daya cengkram dan juga tingkat kenyamanan
mobil. Tapak yang baik adalah yang berdesain normal. Untuk memberikan
kenayamanan dalam penggunaan mobil sehari-hari. Tipe alur V yang agressif
memiliki kemampuan mencengkram aspal dengan baik. Ban alur ini juga mampu
mereduksi suara dari putaran ban. Kelebihan ban jenis ini adalah kemampuan
untuk memberikan pengendalian yang lebih baik terhadap kondisi jalan basah dan
saat berbelok.
Kode Kecepatan
Layaknya
kinerja mesin, kinerja ban pun memiliki keterbatasan. Perhatikan huruf yang
tercetak pada didinding ban. Walau pun, ini dimaksudkan bagi mobil
ber-spesifikasi balap. Tapi jika, Anda melajukan mobil sampai kecepatan
maksimum, pastikan ban dapat bertahan terhadap panas akibat rotasi ban yang
berputar kencang.
Contoh
: P195/55/R15 84V
Kode V
disini menunjukkan kecepatan maksimal yang mampu diatasi oleh ban tersebut.
Dalam hal ini adalah hingga 240 kph.
BAB VI
MEMULAI BISNIS
Komunikasi merupakan aktivitas dasar manusia. Dengan
berkomunikasi, manusia dapat saling berhubungan satu sama lain baik dalam
kehidupan sehari-hari di rumah tangga, di tempat pekerjaan, di pasar, dalam
masyarakat atau di mana saja manusia berada. Komunikasi bisnis adalah pertukaran
gagasan, pendapat, informasi, instruksi yang memiliki tujuan tertentu yang
disajikan secara personal atau kelompok melalui simbolsimbol atau sinyal
bisnis. Unsur Pokok dalam
Komunikasi Binis Dalam KOMUNIKASI BISNIS terdapat enam unsur pokok, yaitu:
1) Memiliki tujuan, artinya komunikasi bisnis harus
memiliki tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya sejalan dengan tujuan
organisasi.
2)
Pertukaran, dalam hal ini melibatkan paling tidak dua orang atau lebih yakni
komunikator dan komunikan.
3) Gagasan, opini, informasi, instruksi merupakan
isi dari pesan yang bentuknya beragam tergantung tujuan,situasi, dan
kondisinya.
4) Menggunakan saluran personal atau Kelompok yang
mungkin bersifat tatap muka, menggunakan media tertentu atau melalui media yang
menjangkau jutaan orang secara bersamaan.
5) Meggunakan
simbol atau sinyal yang merupakan alat atau metode yang dapat dimengerti atau
dipahami oleh penerima untuk menyampaikan pesan.
6) Pencapaian tujuan organisasi: salah satu
karakteristik yang membedakan organisasi atau lembaga formal dari informasi
adalah adanya tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya oleh manajemen.
7 (tujuh)
Elemen Pentingdalam
Komunikasi Bisnis :
1) Struktur Bagaimana struktur komunikasi anda
adalah dasar untuk mudah diserap dan dipahami oleh audiens anda. Setiap
komunikasi yang baik harus memiliki tiga unsur struktural yaitu : (1)Membuka,
(2)tubuh, (3)menutup. Tidak perduli apa bentuk komunikasi Anda, misalkan :
memo, panggilan telepon, pesan voice mail, presentasi pribadi, pidato, email,
halaman Web, atau presentasi multi-media. Komunikasi audiens anda, mungkin bisa
hanya satu orang, sebuah tim kecil, kelompok orang bisa dalam skala nasional
bahkan global.
2) Kejelasan Messaqe
yang anda ingin sampaikan harus jelas, dan jangan memberikan pesan yang
membingungkan untuk audiens anda, supaya pesan anda tidakdiabaikan.
3) Konsistensi Informasi bisnis yang anda sampaikan
jangan sampai inkonsistensi dari pesan yang telah anda sampaikan kepada
pelanggan anda.
4) Pilihan Komunikasi Bisnis yang harus anda lakukan
dengan menggunakan presentasi, pameran, ceramah, seminar, roadshow dll.
5) Relevansi. Realitas psikologis adalah bahwa
konsumen tertarik pada subjek komunikasi bisnis , karena figur atau sesuatu
yang di idolakan.
6) Jangkawaktu. Hal ini penting untuk mengetahui
Kekuatan Komunikasi Bisnis atas sebuah produk barang atau jasa bisa diingat
lebih lama oleh konsumen atau pelanggan.
7) Psikologis
Aturan 7±2 (tujuh plus / minus dua) Konsumen
anda hanya mampu menerima pada antara lima dan sembilan informasi
pada satu waktu.
BAB VII
KONSEP GAME TEORY
Strategi
Sukses Wirausaha Muda “9 dari 10 pintu rizki ummatku ada diperdagangan” (Sabda
Rasululloh Muhammad SAW) • Mulailah dengan mengerjakan apa yang perlu; lalu
kerjakanlah apa yang mungkin; maka tiba-tiba anda mengerjakan yang mustahil;
(St. Francis dari assisi) • “Seorang Pengusaha yang paling sukses adalah dia
yang berpegang pada hal-hal lama selama hal itu masih baik dan merebut hal hal
baru begitu terbukti hal itu lebih baik” (Robert P Vanderpoel)
Ide-ide
Wirausaha Mahasiswa sukses adalah mahasiswa yang selalu mempunyai dan menemukan
ide/gagasan untuk pengembangan karirnya. Terlebih-lebih jika mahasiswa tersebut
mempersiapkan diri untuk menjadi seorang entrepreneur sukses, maka kreativitas
dan inovasi adalah kata kuncinya. Beberapa ide wirausaha dibawah ini yang
mungkin sederhana namun ”membumi” dapat dijadikan sebagai pedoman dalam memulai
menjadi seorang Entrepreneur Sukses.
Ide ke-1 :
Jual keunikan Jika Anda tergolong
mahasiswa kreatif dan inovatif, pasti banyak ide atau hal baru yang dapat Anda
jadikan peluang usaha. Tidak sedikit usaha baru dimulai dari penemuan jenis
produk, teknologi, sistem, dan program baru. Jika berhasil menciptakan sebuah
keunikan, segera anda ambil hak paten dan menjualnya. Penemuan baru biasanya
sangat berpeluang untuk menembus pasar, apalagi khas, unik, dan dibutuhkan
orang banyak. Contoh nyata, orang membuat kaos-kaos unik dengan kata-kata yang
penuh motivasi. Kaos tersebut memang biasa saja kalau dilihat sepintas, tapi
karena ada keunikannya dengan kata-kata yang penuh inovasinya, bisa menambah nilai
jual. Tentunya keuntungan bisa jauh lebih besar dengan keunikan yang mereka
jual. Ide Ke- 2 : Duplikasi Usaha Lain Bagi
Anda yang merasa kurang kreatif dan inovatif, jangan putus asa. Percayalah, ide
usaha tersebar dimana-mana, bahkan di depan mata. Anda harus selalu perlu
membaca peluang, mengukur potensi, dan berani mengambil resiko. Misalnya, di
sekitar Anda ada rumah makan bakmi yang cukup laris. Apa salahnya Anda bersaing
secara sehat di tempat yang sama dengan produk yang sama. Anda cukup menduplkikasi
usaha tersebut, tapi harus memberikan nilai tambah kepada konsumen, seperti
pelayanan, harga, kecepatan, keramahan. Contoh pelayanan yang lebih memuaskan
kepada konsumen adalah memberikan air teh gratis kepada konsumen atau
memberikan porsi daging yang lebih banyak di banding pesaing anda. Ide Ke-3 :
Usaha Fasilitas tambahan Selain menduplikasi, Anda juga bisa membuka usaha
dengan memberikan usaha fasilitas tambahan, tapi ini harus dengan sedikit
sentuhan kreativitas. Misalnya, tetangga
membuka warnet, maka anda masih bisa menyainginya dengan tambahan fasilitas
atau memperluas penawaran yang ada. Anda bisa mendirikan warnet di lokasi sama.
Hampir setiap waktu ada saja jenis usaha yang trend, seperti sekarang ini
zamannya penyewaan komputer untuk bermain game(game zone). Dengan sedikit
fasilitas tambahan, anda pun bisa memiliki usaha dan siap untuk berhasil. Misalnya,
Anda bisa menyewa tempat di sekitar tempat penyewaan game zone tersebut dengan
menjual minuman yang lagi trend sekarang ini, Bubble Tea. Itu sangat cocok
dengan pangsa pasar Bubble Tea dan game zone untuk pangsa pasar anak sekolah. Ide
Ke-4 : Jual Keterampilan Anda sendiri pun dapat menjual keterampilan yang Anda
miliki. Jika bisa menggunting rambut, Anda bisa membuka salon. Dengan sedikit
sentuhan yang berbeda dengan salon-salon lainnya, pasti salon Anda akan ramai
di kunjungi konsumen. Bagi Anda yang
mahir mengetik 10 jari, tidak ada salahnya membuka usaha jasa pengetikan,
seperti skripsi, naskah, makalah, dan lain-lain yang kemudian bisa Anda
kembangkan dengan menerima jasa penerjemahan (translate). Ada banyak usaha yang
bisa Anda buka berdasarkan keterampilan Anda Yakinlah anda punya potensi, punya
keterampilan dan punya harapan besar untuk sukses menjadi seorang entrepreneur,
meskipun sebagai entrepreneur pemula Mulailah belajar menghasilkan income
melalui keterampilan sendiri semisal memberikan privat bahasa Inggris,
Komputer, Matematika, Musik, Me nyanyi atau Jasa lain yang memungkinkan
BAB VIII
KEWIRAUSAHAAN DALAM BIROKRASI
Di era
otonomi daerah ini menurut saya konsep mewirausahakan birokrasi sangatlah baik
untuk diterapkan karena dengan adanya otonomi membuat setiap daerah berupaya
untuk mengatur birokrasi agar dapat berjalan secara akuntabilitas, responsive,
inovatif dan professional serta entrepreneur. entrepreneur disini berarti
pemerintah daerah mempunyai semangat kewirausahaan dimana birokrasi diusahakan lebih
inovatif dalam memberikan pelayanan public agar dapast menjawab perkembangan
masyarakat di era globalisasi.
Mewirausahakan
birokrasi sangatlah tepat diterapkan pada pendekatan
New Public Manajemen (NPM) dimana orientasi birokrasi yang lebih demokratis dan fleksibel tergantung pada perkembangan masyarakat, adanya tingkat rasio yang tinggi, dan masyarakat mempunyai posisi tawar yang tinggi dalam menerima pelayanan publik.
New Public Manajemen (NPM) dimana orientasi birokrasi yang lebih demokratis dan fleksibel tergantung pada perkembangan masyarakat, adanya tingkat rasio yang tinggi, dan masyarakat mempunyai posisi tawar yang tinggi dalam menerima pelayanan publik.
Konteks kemunculan mewirausahakan
birokrasi berawal dari
1. Organ pemerintah yang gemuk
dan lamban, sehingga cenderung bersifat spending daripada mendatangkan profit
dalam wilayah fiskal.
2. Pelayanan publik yang tidak
efektif dan lambat, sehingga melahirkan ketidakpercayaan masyarakat pada
kapasitas pemerintah dalam menyelrnggarakan pelayanan public.
A.
Mewirausaha
dalam Birokrasi Pemerintah Daerah
Mewirausahakan
Birokrasi Pemerintah Daerah Di Era Good Local Governance pertama
kali disampaikan oleh David Osborne dan Ted Gaebler dalam buku mereka yang
berjudul Reinventing Government: How the enterpreneurial spirit is
transforming the public sektor. Buku tersebut ditulis sebagai saran untuk
membantu pencarian solusi di pemerintah Amerika Serikat pada tahun 1993 yang
menanggung beban berat sebagai akibat ditanganinya seluruh kegiatan atau
kebutuhan negara oleh pemerintah federal. Meskipun disambut dengan sikap skeptis,
lambat namun pasti, apa yang disampaikan Osborne dan Gaebler dalam buku
tersebut ternyata membawa angin segar bagi pemerintah federal dalam menyikapi
permasalahan yang sedang dihadapi pada saat itu.
Mereka akan lebih banyak bekerjasama langsung dan lebih luas
dengan swasta. Hal inilah yang menjadi cakupan dalam Reinventing Government yang sering disebut juga dengan
Mewirausahakan Birokrasi. Permasalahan yang sering muncul dalam memahami
reinventing government adalah adanya anggapan bahwa dengan adanya konsep
mewirausahakan birokrasi tersebut berarti kantor dinas/ instansi di
Pemerintahan Daerah (pemda) dituntut untuk “berbisnis” agar dapat memberi nilai
tambah untuk PAD. Padahal, maksud yang sebenarnya adalah memberdayakan
institusional. Bukan menciptakan “pengusaha” dalam lingkungan birokrasi
pemerintahan
Transformasi kewirausahaan dalam
birokrasi
Transformasi
kewirausahaan kedalam birokrasi dapat dilakukan dengan
landasan makro dan mikro, dan keduanya harus dijalankan secara bersama-sama
serta berkesinambungan.
a.
Landasan Makro
Adapun landasan makro yang dimaksud
adalah merubah regulasi kepegawaian, pola pikir,
budaya, dan nilai-nilai kerja para PNS agar mereka bertransformasi menjadi PNS
sebagai pelayan masyarakat yang
produktif dan kompetitif. Selain itu, harus dipastikan
keberlangsungan berjalannya sistem yang baik, sehingga terjadi perubahan
positif menuju perbaikan kualitas pelayanan publik secara terus-menerus. Dalam
tataran praktek, upaya peningkatan kualitas pelayanan publik dapat dilakukan
melalui pengembangan model-model pelayanan publik seperti model contracting
out dan franchising. Adapun dalam model contracting out,
pemerintah memegang peran sebagai pengatur, sedangkan pelayanan publik
dilaksanakan oleh swasta melalui suatu proses lelang. Untuk model franchising,
pemerintah menunjuk pihak swasta untuk dapat menyediakan pelayanan publik
tertentu yang diikuti dengan price regularity untuk mengatur harga
maksimum.
Berdasarkan landasan makro tersebut, maka
kesemuanya akan dirinci lebih lanjut dalam bentuk konkrit
program (landasan mikro).
b.
Landasan Mikro
Adapun landasan mikro yang dimaksud adalah:
1)
Penetapan
standar pelayanan. Didalamnya tercakup pengembangan Standard Operating Procedures
(SOP), pelanjutan (penyempurnaan) Standar Pelayanan Minimum (SPM) yang telah
dilaksanakan oleh Depdagri.
2)
Pelaksanaan
survei pelayanan publik. Untuk survei ini, maka dia dapat dilakukan oleh Kementrian
Negara Pendayagunaan Aparatur Negara.
3)
Pembuatan
indeks pelayanan publik. Untuk indeks ini dapat berasal dari penerapan SPM di bidang
lingkungan hidup, kesehatan, sosial, dan pemerintahan (kabupaten/kota),
penyusunan anggaran Pemda, dan bidang pendidikan.
4)
Pengembangan
sistem manajemen pengaduan.
Dari sisi mikro, pengaduan masyarakat
merupakan satu sumber informasi bagi
upaya-upaya pihak penyelenggara pelayanan publik (PNS) untuk secara
konsisten menjaga pelayanan yang dihasilkannya agar sesuai dengan standar yang
telah ditetapkan. Oleh karena itu, perlu didisain suatu sistem pengelolaan
pengaduan yang secara cepat, efektif dan efisien dalam mengolah berbagai
pengaduan masyarakat, sehingga pengaduan masyarakat tersebut menjadi bahan
masukan bagi perbaikan kualitas pelayanan publik ke depan.
5)
Dengan menggunakan model contracting
out dan franchising perusahaan yang
memegang pelayanan publik akan berusaha untuk tetap memberikan pelayanan
yang baik karena sewaktu-waktu mereka dapat digantikan oleh perusahaan lain
apabila mereka tidak memberikan pelayanan yang baik terhadap publik.
BAB IX
LIMA DISIPLIN ORGANISASI PEMBELAJARAN
Mencari peluang usaha bagi para pengangguran cukup
mudah, karena seiring dengan berkembangnya zaman, maka dengan menggunakan media
sosial pun dapat mencari jenis usaha apa saja yang dapat dilakukan serta
teknik-teknik agar usaha dapat berkembang dengan pesat. Inovasi juga harus
dilakukan agar tidak mengikuti usaha yang sudah ada, mungkin dengan bentuk yang
sama namun dengan cara yang berbeda.
Mencari peluang usaha
yang pertama adalah dengan bantuan mesin pencari bernama google. Informasi yang
tersedia didalam google dapat dijadikan referensi untuk mencari jenis usaha apa
saja yang sedang banyak diminati. Internet yang dapat menjelajah seluruh isi
dunia menjadi solusi utama bagi siapa saja yang membutuhkan informasi.
Semuanya sudah dirangkum dan dibagikan
secara gratis, hanya mencari apa yang ingin dicari kemudian hasil akan muncul
dengan sendirinya. Cara selanjutnya dengan mengikuti seminar wirausaha yang
saat ini banyak dijalankan. Bagi mahasiswa, karyawan dan sebagainya dapat
mengikuti seminar ini. Peluang usaha yang cukup mudah dengan modal sedikit
banyak disebutkan di sana. Selain itu contoh seseorang yang sudah sukses juga
membagi pengalamannya.
Pada satu komunitas dalam lingkup yang relatif kecil,
pernyataan visi akan lebih mudah terwujudkan oleh karena kebutuhan serta
persoalan yang dihadapi masing-masing individu relatif sama. Pesamaan
ini adalah kekuatan yang realistis bagi komunitas itu, di mana
persamaan dapat membangkitkan karakteristik positif lainnya untuk
mendorong agar lahir suatu pernyataan dari mereka dengan harapan
persoalan yang dihadapi bersama dapat teratasi. Dengan demikian
harapan atau cita-cita yang ingin dicapai oleh masing-masing individu dalam
kelompok itu lebih realistis, serta visi bersama terbangun dengan sendirinya
tanpa mengalami hambatan yang berarti. Hal ini menunjukkan bahwa jika dalam
satu komunitas mengalami masalah yang sama serta menyadari bahwa
persoalan itu adalah persoalan bersama maka visi bersama akan terbangun dengan
sendirinya.
Dalam membangun institusi atau
lembaga daerah, katakan pada tingkat distrik, mestinya
dilakukan berdasarkan visi yang telah dibangun
secara bersama oleh seluruh elemen yang terdapat dalam
distrik tersebut. Hal ini disebabkan untuk menghindari
adanya institusi atau lembaga yang dibentuk tidak berfungsi
dalam mendukung visi. Jika hal ini terjadi tentu
pemborosan dari segi anggaran dan waktu
tidak terhindarkan, dan visipun sulit terjangkau.
Konteks ini tentu sangat berkaitan dengan saat awal
pembentukan distrik, di mana visi yang digunakanpun ialah
visi distrik bukan visi menejer yang akan
memimpin di distrik itu. Dengan demikian akan
terbentuk unit-unit kerja sesuai kebutuhan visi baik
dalam jangka pendek maupun jangka pangjang selama eksistensi
distrik masih dipertahankan. Sesungguhnya konsep ini merupakan
bentuk lain dari pelayanan terhadap konstruksi visi yang
telah disepakati bersama.
Konsep “Good Governance”
atau kepemerintahan yang baik mengajarkan, bahwa terdapat 3
domain yang mendukung keberadaannya, yaitu unsur pemerintah, masyarakat, dan
pengusaha disertai batasan tanggungjawab masing-masing dalam membangun
kebersamaan. Tentu visi yang menjadi
cita-cita merupakan milik bersama, dengan kata lain ketiga
domain ini harus merasa bahwa keberhasilan visi ini adalah
tanggungjawab bersama. Dalam kebersamaan ini kedudukan antara
ketiganya juga sama, tak ada kelebihan yang satu dari yang
lain, oleh karena itu visi yang terbangun haruslah mampu
mengakomodir kepentingan dari ketiga unsur ini. Akan lebih baik
pada saat pembentukannya, dilakukan pencermatan serta
perhitungan yang akurat terhadap lingkungan internal dan eksternal
visi (Intelectual Vision), kemudian upayakan agar ianya
memiliki kharisma, sehingga terjadi hubungan emosional yang
tinggi antara ketiga unsur domain tadi dengan visi (Emotional
Vision)